Sebuah kontemplasi tentang citra diri

Hari ini mendung menyelimuti Jogjakarta dengan begitu sempurnanya. Mendung yang kian menghitam ini seakan enggan berarak. Entah karena doa makhluk-makhluk yang mengharap hujan turun begitu lebatnya untuk melepas dahaga karena panas mentari yang membakar sukma, atau karena alam yang murka terhadap manusia yang hanya bisa mengeluh dengan apa yang ia terima tanpa mempertimbangkan bahwa sejatinya sikapnya selama ini hanyalah proses yang tanpa mereka sadari telah berjaya mengkerdilkan kualitas dirinya dimata Tuhan yang Maha atas segala yang dilangit dan di bumi ini. Sebagai insan biasa, ternyata “mendung” ini juga telah berkali-kali berjaya menyelimuti hati saya. Membawa saya pada ratapan-ratapan penyesalan,kesedihan, dan beragam bentuk manifestasi emosi yang kian lama kian membuncahkan pikiran saya. Pun akhirnya mendung ini berhasil membuyarkan segenap “susunan” prosedur-prosedur yang sejatinya secara teoritis dapat memanajemen stress yang mendera pikiran saya saat ini.Rainbow

Entah apa yang meracuni benak saya untuk beberapa saat, pikiran saya mengawang tak tentu arah bak balon gas yang terbang melangit tertiup angin. Namun, ternyata kebuyaran pikiran saya ini justru membawa saya pada sebuah “sudut kontemplasi” tentang tindak tanduk saya selama ini. NAT 1  yang meracuni pikiran saya telah bermetamorfosis menjadi mesin kontemplasi yang saya rasa dapat menyadarkan saya betapa saya hanyalah manusia biasa yang tak lepas dari salah. NAT yang layaknya seorang pembual yang terus menerus mengoceh di pikiran saya dan menimbulkan pesimistis yang benar-benar tidak realistis ini telah membawa saya pada ruang sadar saya yang sejati.

Dibalik tulisan saya yang mengesankan saya adalah pribadi yang “agak baik”, ternyata ada sisi dimana saya terkuasai oleh emosi negatif…sebuah amarah. Ya, dulu saya adalah pribadi yang teramat tempramental(mungkin sampai saat ini masih ada dalam diri saya). Sedikit saja gesekan, sedikit saja sesuatu berjalan tidak sesuai apa yang ada dalam ekspektasi saya maka nafsu amarah itu akan berkecamuk. Menghebat di dalam benak saya, meskipun sebagian besar hanya akan menghilang ter represi oleh upaya saya memanajemen stress itu sendiri.

Dibalik tulisan  saya yang mengesankan saya adalah pribadi yang “agak baik”, ternyata ada sisi dimana saya adalah pribadi yang begitu ceroboh, yang tidak tanggap, yang kadang kebablasan dalam bergurau, dalam bercengkrama, dan dalam bersikap. Anggap saja Surat Terbuka Untuk Tuhan yang saya tulis setahun silam  sebagai ucapan maaf saya kepada Tuhan yang mungkin sedikit terkesan tidak etis ketika doa itu dipanjatkan melalui internet(medsos,web,blog) karena sejatinya doa itu adalah sarana komunikasi internal antara manusia dan penciptanya yang transenden, yang diluar kesanggupan logika manusia untuk menjelaskan betapa luarbiasa kuasaNya untuk seisi jagat raya ini. Maka, sejatinya tak etis ketika ada yang sengaja mencuri dengar pada proses “komunikasi pribadi” antara manusia dan sang Khaliq ini, atau memang dengan sengaja jalur komunikasi itu dibeberkan untuk menggapai simpati? Ah entahlah, manusia sungguh begitu rumit dengan berbagai karakter yang berbeda yang disematkan pada masing-masing pribadinya.

Lalu, apa ini ? kenapa tulisan ini seakan menyebarkan vibrasi negatif ? Kenapa berbeda dengan tulisan-tulisan sebelumnya ?

Pikiran manusia memang mudah mengkonstruksikan sesuatu yang negatif ya Sleepy smile ? tidak, bukan itu inti dari tulisan saya kali ini, bukan berarti saya dalam kondisi depresi saat ini (well, mungkin nanti…tergantung triggernya saja ). Hidup ini bagaikan roda pedati kawan, tak satupun bagian roda itu yang senantiasa berada dibawah, pun demikian tidak pula satu bagian roda itu senantiasa berada di atas. Hidup ini begitu berfluktuasi, kadang naik, kadang menurun, kadang datar, kadang berliku. Saya, anda, dan kita sebagai seorang manusia yang normal pastilah pernah mengalami keterpurukan, namun sudah sepantasnya kita membangun semangat untuk bangkit dan menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi. Karena itulah sejatinya tugas kita sebagai seorang insan..bergerak menuju kebaikan.

Lalu, apakah selama ini saya hanya berpura-pura menjadi baik dengan menuliskan artikel-artikel yang seolah mencirikan kebaikan?

Jika menilik tujuan awal blog ini(yang sudah sangat sering saya utarakan pada artikel-artikel saya sebelumnya) bahwa menulis adalah sarana self-therapy, self-help bagi saya. Maka saya berusaha menggapai gambaran “citra diri ideal” saya, dan berusaha mempertahankan dan meningkatkan apa yang baik, serta meninggalkan apa yang buruk dari dalam “citra diri faktual” saya. Seperti yang saya utarakan sebelumnya, kita semua bergerak menuju kebaikan, kan ?

Terlepas dari tujuan awal penulisan artikel-artikel di blog ini, hanya satu harapan saya. Siapapun anda, apapun yang anda lakukan, semoga ketika anda membaca apapun yang ada di blog ini, artikel itu hanya akan memberikan nilai kebermanfaatan bagi anda. Ambillah yang baik saja, dan tinggalkanlah yang tidak baik.

Semoga artikel-artikel di blog ini membawa anda pada kontemplasi-kontemplasi yang semakin mengukuhkan langkah anda untuk bergerak menuju ke kebaikan..menggapai citra diri ideal anda. Maka, sudah saatnya kita mengkonseptualisasikan “citra diri ideal” kita dan senantiasa bergerak untuk mencapai citra diri ideal yang menjadi sumber kebaikan bagi sebanyak mungkin orang lain. Bukan citra diri ideal yang berdaya merusakkan segenap tatanan sosial, menghancurkan tatanan kemanusiaan, dan membuyarkan norma-norma yang ada di masyarakat. Jadilah citra diri ideal yang berdaya membaikkan sebanyak mungkin orang lain.

Note :

NAT1   : Negative Automatic Thought, Adalah aliran pikiran yang dapat kita ketahui, jika kita memberikan perhatian padanya. Pikiran negatif yang terus bermunculan secara otomatis tanpa bisa kita kendalikan.Ia adalah interpretasi yang terbingkai secara negatif tentang apa yang akan terjadi dengan kita. Biasanya NAT menimbulkan pengaruh negatif pada kondisi jiwa dan pikiran kita.

Advertisements

About robofics

Adalah seorang yang masih terus berupaya mencari makna dari kehidupan. Penikmat sastra, seorang plegmatis. Seorang pembelajar dari universitas kehidupan.
This entry was posted in renungan. Bookmark the permalink.

Balas komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s