Kucing Bernyawa Sembilan

Motor tua saya kembali mengaum membelah kesunyian pagi di Mako PMI Kota Yogyakarta. Ya, karena sedari tadi malam saya bersama beberapa rekan terlalu terbuai ngobrol ngalor ngidul1 tidak jelas, mulai dari masalah organisasi sampai ke perkara personal sekalipun tak luput dari pembahasan kami sambil menikmati seruput demi seruput kopi, tanpa kami sadari ternyata waktu sudah merangkak mendekati subuh. Akhirnya kami pun menyerah pasrah pada kantuk yang merengkuh. Mata kami dipaksa untuk terpejam dalam dera kantuk yang maha dahsyat, kami pun terbuai dalam lelap. Dinginnya pagi pun seakan tak mampu menghempaskan rasa kantuk kami yang kian teramat. Jam menunjukkan pukul 6 pagi, suara alarm yang hanya beberapa decibel saja seakan bak petir di siang bolong, mengganggu saya yang seolah begitu malas beringsut dari posisi tidur yang “PW” ini. Nanar memandang sekeliling, masih ngumpulin nyawa kalau kata orang. “Nyawa” saya tersentak kembali ke tubuh dari kelana singkat di alam mimpi. Saya kembali ke dalam ruang kesadaran saya yang hakiki. Setelah berbenah beberapa saat saya langsung menuruni sedikit demi sedikit anak tangga ini dengan bergontai.

Pukul 6 lebih seperempat ketika deru mesin motor saya membelah sunyinya jalanan di kota Yogyakarta. Namun, selama perjalanan ada rasa tidak nyaman yang menghinggapi hati saya. Sebuah kecemasan yang tanpa alasan, atau mungkin ini cara subconscious mind2 saya untuk memberitahukan saya bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi, atau mungkin alasan-alasan lain yang belum sempat terpetakan oleh daya berfikir saya saat ini. Yang jelas, pada saat itu otak saya seakan mengalami kecamuk badai pikiran yang berimbas pada rasa tidak nyaman yang saya rasakan di hati saya. Bahkan sampai membuat badan saya sedikit gemetar, tremor karena sesuatu yang tidak berdasar J

 

Dan benar saja, setelah melewati jalan sebelah timur UKDW3, fokus saya mendadak buyar ketika seekor kucing lucu dengan dominasi warna oranye dan putih mendadak menyeberang jalan yang masih begitu lengang. Terlambat, rem yang saya injak tak mampu meredam efek tubrukan yang terjadi. Si kucing malang itu pun tergilas oleh roda motor saya yang seakan menggagahi kelucuannya. Laju motor saya pun kini melambat, segera saya mengarahkan motor tua saya ke tepian jalan. Terdiam, saya baru bisa keluar dari “freeze moment” saya ketika seorang pesepeda mengagetkan saya dengan kata-katanya “di kuburin aja mas, daripada kena tulahnya nanti”. Saya pun kemudian menghampiri si malang yang sudah terkapar di jalanan itu. Si kucing inipun akhirnya saya pindahkan ke trotoar jalan. Agar ia tidak lagi merasakan terlindas oleh ban-ban pengendara lain. Lama saya perhatikan sang kucing lucu ini, ia masih sedikit bergerak. Entah itu upaya dia untuk mengatakan “aku masih hidup” atau itu hanya kejang yang merupakan refleks tidak sadarnya yang seolah ingin berucap “ayolah kawan, inilah waktunya aku mati..inilah ajalku”. Rasa bersalah itupun kian menghebat, ah namun saya sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa selain mengekspresikan segenap rasa bersalah saya ketika “gerakan” itu tak lagi terlihat. Entah darimana asal muasal mitos bahwa kucing itu bernyawa Sembilan pertama kali muncul ke permukaan, yang jelas si kucing malang inilah yang mampu mendobrak mitos yang selama ini beredar di masyarakat. Nyawanya terenggut sia-sia oleh saya. Sayalah jagal bagi sang kucing, sayalah malaikat mautnya. Ah, dari sana saya tahu bahwa ternyata ventromedial prefrontal cortex saya masih berfungsi dengan baik, bagian otak yang mengatur emosi termasuk empati dan rasa bersalah. Terbukti dari rasa bersalah yang saya rasakan. Tapi, ternyata kecemasan saya tak berhenti sampai disitu. Masih dengan rasa bersalah yang sama, ternyata rasa tidak nyaman dalam hati saya ini tidak juga mereda. Nafas saya kini memberat, mencoba mencari jawaban dari kecemasan yang saya alami. Ah, mungkin saja kata-kata si pesepeda tadi terlalu dalam menancapkan jangkar sugestinya kepada saya sehingga menimbulkan anticipatory anxiety4. Sehingga subconscious mind saya mencoba-coba untuk mengaitkan kata-kata bapak tadi dengan “tulah” dan segala macam kesialan yang saya takutkan akan saya dapatkan nantinya. Anyway, terlepas dari kucing dan segala tetek-bengek kecemasan saya hari ini, saya hanya ingin mengambil beberapa hikmah dari apa yang saya alami hari ini.

Pertama, jangan begadang, seseorang yang kurang tidur terkadang akan mempengaruhi tingkat kecemasan orang tersebut..

Kedua,    Hati-hatilah dalam berkendara karena kehilangan fokus sedikit saja dapat berakibat fatal bagi diri anda sendiri dan juga pengguna jalan lainnya.

Ketiga,    Berhenti mengait-ngaitkan kecemasan dengan sesuatu yang anda takutkan akan terjadi,  semakin Anda membangun rasa takut itu, semakin besar pula kecemasan yang akan anda  terima yang Hanya akan berdampak pada psikis dan fisiologis tubuh anda sendiri, hanya akan berbalik pada diri anda sendiri.

Dan untukmu, kucing, pus, meong, atau siapapun sebutanmu jika kamu pernah memilikinya, maaf atas ketidakhati-hatianku dalam berkendara. Maaf sudah menjadi “jagal” bagi kehidupanmu.

NOTE:

1 Ngobrol ngalor-ngidul : ngobrol kesana kemari tanpa arah dan alur pembicaraan yang jelas. Random

2 Subconscious mind : Pikiran bawah sadar

3 UKDW : Universitas Kristen Duta Wacana

4 Anticipatory Anxiety : Kecemasan antisipatif. Kondisi dimana seseorang mengalami kecemasan yang semakin meningkat ketika memikirkan sesuatu yang akan terjadi di masa mendatang, di kemudian hari.

 

Advertisements

About robofics

Adalah seorang yang masih terus berupaya mencari makna dari kehidupan. Penikmat sastra, seorang plegmatis. Seorang pembelajar dari universitas kehidupan.
This entry was posted in catatan lepas. Bookmark the permalink.

Balas komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s