Kebebasan Dalam Memilih Agama

Undang-undang dasar 1945 pasal 28 E ayat 1 berbunyi Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya , memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali”. Setiap warga negara bebas dan berhak untuk memilih agama dan beribadah menurut agama yang ia anut tersebut. Beribadah adalah suatu proses pembuktian bakti kepada Tuhan, yang di dasari dengan keikhlasan dan ketaatan dalam menjalani perintahNya dan juga menjauhi laranganNya.

kebebasan dalam memilih agama

kebebasan beragama

Kenapa lantas kemudian saya menuliskan artikel tentang agama ini ? Well, ini sebenarnya di dasarkan pada kesedihan saya ketika beberapa hari yang lalu dalam sebuah grup di facebook saya mendapati banyak sekali dialog yang menjelek-jelekkan agama satu dengan agama lainnya. Padahal dalam UUD 1945 Pasal 28 I ayat 1 menjelaskan bahwa hak beragama merupakan hak asasi. Jadi sebenarnya ketika mereka melakukan penghinaan terhadap agama tertentu, sebenarnya mereka telah melanggar hak asasi seseorang.

Sahabat, hidup ini adalah sebuah pilihan. Dan setiap dari kita memiliki kontrol atas diri kita tentang apa yang kita pilih. Kebebasan dalam berpendapat pun sudah di atur dalam undang-undang. Membahas esensi dari agama itupun adalah sesuatu yang sah-sah saja menurut saya. Namun apabila ketika dialog itu sudah mulai menukik tajam ke arah rasialisme, yang mulai menjelek-jelekkan keyakinan orang lain, yang mengkultuskan keyakinan sendiri sebagai yang hakiki, yang terdapat sentimen-sentimen keagamaan itulah yang salah.

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya bahwa setiap orang berhak untuk memilih, bahkan ketika seseorang itu memilih untuk tidak mempercayai eksistensi Tuhan sekalipun, itu adalah tetap sebuah pilihan. Agama itu adalah tentang kepercayaan, dan tidak seharusnya di perdebatkan.

Semua agama itu baik, yang menjadikannya tidak baik itu adalah “oknumnya”, manusia yang berada di dalamnya. Manusia memiliki akal dan pikiran, dan antara orang yang satu dengan yang lainnya pastilah tidak sama jalan berfikirnya. Adakalanya seseorang menjadi baik, namun ada kalanya ia menjadi tidak baik. Kembali lagi ini semua tentang pilihan. Jangan lantas kita menyalahkan “setan dan iblis” atas ketidakbaikan sikap kita. Karena baik-buruknya kita adalah kita sendiri yang menentukan.

Jangan kemudian menyalahkan agama-agama tertentu karena sebuah kejadian, jangan pula mengkultuskan agama tertentu jika sikap kita itu belum bisa menjadi sumber kebaikan bagi sebanyak mungkin orang lain. Jangan pula menyalahkan seseorang yang memilih untuk tidak memilih agama apapun(karena itu adalah pilihan atas kepercayaan, maka tidak sepantasnya kita memperdebatkannya). Karena sebenarnya militansi dalam beragama itu biarkan anda dan Tuhan yang tahu. Dan bagi mereka yang memilih untuk tidak mempercayai eksistensi Tuhan, tidak sepantasnya pula mencemooh apa yang mereka percayai. Perhatikan betapa indahnya dunia ini ketika terjadi sinergi antara “teis dan ateis” untuk membawa kita kepada “kebaruan kehidupan” yang semakin lama semakin mengarah pada kebaikan.

Sudah saatnya kita berhenti menyalahkan agama-agama tertentu. Sudah saatnya kita berhenti mendistorsi pilihan-pilihan dari orang lain. Jadikan pilihanmu untuk memilih agama sebagai tanggung jawabmu kepada Tuhan. Namun, ketika kita hidup bermasyarakat, maka jadilah masyarakat. Hilangkan semua sentimen-sentimen keagamaan dan bergeraklah untuk satu tujuan kebaikan. Maka dengan begitu sejatinya kita sedang memantaskan diri kita untuk menjadi sebaik-baiknya pribadi.

Saya bukanlah seorang yang sekuler, bukan ateis, bukan pula agnostik. Saya memilih untuk beragama dan menjalankan agama sesuai apa yang saya percayai. Saya hanya merasa miris ketika harus mendengar dan melihat(terutama di dunia maya ini) tentang begitu kentalnya sentimen-sentimen keagamaan yang beredar pesat di dalam masyarakat. Sahabat, kita semua ini bersaudara, tak sepantasnya ada pertikaian diantara kita. Dialog-dialog tentang agama dari berbagai macam paham keagamaan itu boleh-boleh saja selama itu membawa kebaikan, media pembelajaran bagi semua orang. Ini bukan tentang agama mana yang terbaik, bukan tentang pilihan mana yang terbaik. Tapi tentang tanggung jawab anda dalam menjalankan konsekuensi dari apa yang anda pilih itu. Anda adalah anda, syukuri saja. Jalani pilihan anda karena itu adalah yang terbaik untuk anda. Dan ijinkan orang lain menjalani pilihannya tanpa harus ada saling intervensi antar pilihan itu. Karena tugas kita di dunia ini bukanlah untuk saling bertikai, saling intervensi, tapi tentang saling menjaga terciptanya kebaikan bagi sebanyak mungkin orang lain. Apapun yang anda pilih, alangkah lebih bijaksananya ketika anda juga mengupayakan untuk menjadi sumber kebaikan dari sebanyak mungkin orang lain.

Technorati : , , , ,
Del.icio.us : , , , ,
Zooomr : , , , ,
Flickr : , , , ,

Advertisements

About robofics

Adalah seorang yang masih terus berupaya mencari makna dari kehidupan. Penikmat sastra, seorang plegmatis. Seorang pembelajar dari universitas kehidupan.
This entry was posted in renungan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Balas komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s