Jelek Itu Hanyalah Mitos

Kejelekan itu hanyalah mitos. Dalam kamus besar bahasa indonesia jelek adalah kondisi atau sesuatu yang tidak enak untuk di pandang mata. Ingatkah dulu ketika kita kecil, saat kita makan dengan tangan kiri misalnya(terutama karena di Indonesia, penggunaan tangan kanan lebih dominan) orang tua kita selalu mengingatkan kita bahwa itu adalah hal yang jelek. Karena mungkin doktrin tentang tangan kanan sebagai tangan yang baik dan tangan kiri sebagai yang jelek. Seiring dengan berkembangnya kedewasaan seseorang, saya yakin kini setiap orang yang tumbuh mendewasa telah bisa membedakan mana hal yang dianggap sebagai hal yang jelek dan mana hal yang baik. Namun menurut saya, sejatinya di dunia ini tidak ada hal yang jelek.

jelek itu mitos

Mungkin anda kini mulai mempertanyakan artikel saya ini. Bagaimana bisa saya mengatakan bahwa jelek itu hanyalah mitos? Well, simpulan ini sebenarnya saya ambil ketika dengan tidak sengaja saya melihat sebuah acara di salah satu stasiun televisi swasta(sebut saja sinetron 😀 ). Disana terlihat seorang anak kecil yang menggunakan kopiah yang kebesaran sehingga menutupi matanya.

kopiah

Coba perhatikan anak diatas, apakah ia terlihat jelek ? jika ya, bagian mana dari si anak yang membuatnya terliaht jelek ? si anak sendiri ? tidak? kalau begitu kopiahnya ? bagaimana jika kopiah ini di pakai oleh seseorang yang tepat, orang dewasa misalnya. Apakah kopiah ini masih akan terlihat jelek ? Tidak kan ?

Jadi, sejatinya tidak ada sesuatu hal apapun di dunia ini adalah sesuatu yang jelek . Sejatinya

jelek itu hanyalah mitos

ia tidaklah jelek, ia hanya bergantung dengan dimana ia di letakkan dan dipergunakan. Jelek itu hanyalah mitos. Apakah seseorang yang memiliki keterbatasan secara fisik itu jelek ? Tidak, mereka adalah pribadi-pribadi luar biasa yang mendapatkan cobaan yang lebih daripada kita dalam kehidupannya sebagai media penilaian dari Tuhan tentang tingkat keimanan dan kesyukuran mereka ketika mereka harus di hadapkan dengan cobaan itu seumur hidupnya. Dan ketika mereka berhasil melaluinya ? maka diangkatlah derajat mereka di sisi Tuhan yang Maha atas segala alam, namun apabila mereka memilih menyerah pasrah pada keadaan yang mendera dan menghalalkan segala cara untuk menyudahi penderitaan itu(dengan jalan bunuh diri misalnya) maka jatuhlah derajat mereka serendah-rendahnya di mata Sang Khaliq.

Apakah seseorang yang pendek, seseorang yang gemuk sekali, dan seseorang yang lain yang mendapatkan label kejelekan itu pasti jelek? Jika anda mengatakan iya, maka tidakkah kalian sadar bahwa sejatinya kalian telah meragukan kuasa penciptaan Tuhan yang Khaliq ? Percayalah akan satu hal, karena jelek itu hanyalah mitos. Karena pria/wanita yang kalian anggap jelek akan tetap terlihat tampan/cantik ketika mereka di pertemukan dengan seseorang yang tepat. Seseorang yang mencintai,menyayangi, dan mengagumi mereka dengan seperti apa yang dapat di rasakan orang yang kalian beri label sebagai “orang yang baik/cantik/tampan”. Karena sejatinya cinta itu tidaklah membutuhkan alasan. Seberapa tinggipun standar kalian tentang calon pasangan kalian nantinya, maka semua standar itu hanya akan jatuh dan hilang ketika kalian jatuh cinta tanpa alasan 🙂

Menurut hemat saya, jelek itu berarti kita berada pada ranah yang “anti mainstream”. Pada kondisi yang tidak semua orang mengalaminya. Sesuatu yang lebih di bandingkan dengan orang lain. Dan karena mereka yang berlabelkan “jelek”(saya misalnya) itu berada pada kondisi yang lebih dari orang lain. Maka sudah seharusnya di imbangi pula dengan kesyukuran dan keimanan yang lebih daripada apa yang orang lain mampu lakukan. Sebuah kesyukuran dan keimanan yang “anti mainstream” 🙂

Jadi, jika anda merasakan adanya “unsur kejelekan” itu ada pada diri anda, atau mungkin anda merasakan anda adalah pribadi yang “bully-able” karena kejelekan yang anda rasakan ada pada diri anda. Maka ingatlah akan satu hal, bahwa pikiran yang demikian itu hanya akan membuat anda mempertanyakan kuasa penciptaan Tuhan, hanya akan mengkerdilkan kualitas anda di mata Tuhan. Seperti yang pernah di katakan uncle ben dalam film spiderman “With great power comes great responsibility”. Bahwa dengan kekuatan yang besar, harus di imbangi dengan tanggung jawab yang besar pula. Seperti

definisi jelek

yang saya utarakan sebelumnya, bahwa jelek itu adalah saat kita berada dalam kondisi anti mainstream. Maka harus di imbangi dengan kesyukuran dan keimanan yang anti mainstream pula. Oleh sebab itu, saya beserta segenap pribadi yang tertempel label jelek di dalam diri kita, maka saya mengajak anda semua untuk meningkatkan kesyukuran dan keimanan kita.

 

mitos jelek

Salam

Universitas Kehidupan

Advertisements

About robofics

Adalah seorang yang masih terus berupaya mencari makna dari kehidupan. Penikmat sastra, seorang plegmatis. Seorang pembelajar dari universitas kehidupan.
This entry was posted in catatan lepas and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Balas komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s