Resolusi 2015 ? Aksi nyata atau hanya sebatas kontemplasi tanpa aksi ?

Tidak  disangka, kini kita telah berada di penghujung tahun 2014. Sudah tiba saatnya kita untuk mempersiapkan diri menyambut tahun baru, tahun 2015. Berbicara masalah tahun baru, sangat erat kaitannya dengan perbincangan masalah “resolusi”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, resolusi di definisikan sebagai suatu bentuk kebulatan pendapat atau suatu putusan. Masih ingatkah sahabat dengan apa yang sahabat ikrarkan di awal tahun 2014 lalu ? Masih ingatkah sahabat dengan mimpi-mimpi besar yang ingin sahabat capai di tahun ini ? Apakah semua itu mampu sahabat capai ?

resolusi 2015, harapan, asa, cita-cita, cita,keinginan

 

Mungkin jika di tanyai perihal resolusi tahun baru, akan ada segudang harapan di dalam benak sahabat, tentang ingin menjadi apa, tentang apa yang ingin di lakukan dan di dapatkan. Namun, ada pula yang acuh tak acuh tanpa memikirkan pentingnya sebuah resolusi dan memilih untuk memilih menjalani hidup ini seperti air. Just go with the flow. Coba sahabat ingat kembali apa yang pernah sahabat ikrarkan dulu di awal tahun 2014 sebagai suatu resolusi awal tahun ? Apakah yang sahabat ungkapkan satu tahun yang lalu menjadi sebuah kenyataan ? Well, ada sebagian yang mengatakan iya, namun banyak pula yang dengan tegas menjawab tidak.

Mari bersama-sama kita identifikasi ketidakberhasilan sahabat dalam mewujudkan resolusi sahabat ini. Bayangkan kita saat ini memiliki sebuah mesin waktu yang teramat canggih. Sebuah pintu kemana saja yang akan membawa kita ke masa apapun, kapanpun, dan dimanapun sesuai dengan keinginan kita. Bayangkan setiap detail mesin waktu itu tampak begitu nyata di hadapan kita, imajinasikan setiap tombol-tombolnya, lihat pula ada sebuah layar besar yang menjadi preview dari  sesuatu di masa lalu yang  sahabat ingin lihat dan tampilkan. Luar biasa, kini bergeraklah mundur ke masa lalu anda, masa di mana pertama kali anda mengikrarkan resolusi awal tahun 2014 lalu. Bayangkan,gambarkan,perhatikan, dan dengarkan setiap detail yang ada disana. Tentang apa yang anda ucapkan, di mana anda mengucapkannya, apakah itu terjadi di siang atau malam hari, hadirkan kembali setiap detail dari suasana itu. Luar biasa, kini anda telah berhasil membawa kembali memori masa lalu anda untuk di munculkan dengan gambaran yang begitu nyata.

Kini saya minta sahabat untuk menekan tombol-tombol itu untuk bergerak maju secara perlahan. Pada hari berikutnya, perhatikan tingkat semangat anda dalam mewujudkan resolusi anda itu, masihkah semangat itu  dalam kobaran yang begitu besar ? perlahan bergerak maju dan tinjau kembali semangat anda dalam mewujudkan resolusi anda yang kian hari kian menurun, sehingga ada masa di mana anda mulai malas untuk mewujudkan keinginan anda itu. Perhatikan seberapa malasnya anda untuk mewujudkan mimpi-mimpi besar anda. Baik, sekarang kembali putar mesin waktu di dalam otak anda untuk bergerak maju. Karena kemalasan anda yang semakin menjadi, maka semakin lama anda semakin melupakan resolusi itu, terus berlanjut hingga hari ini.

Baik, kini kita telah berhasil mengetahui kenapa resolusi-resolusi kita ini hanya menjadi sebuah kontemplasi tanpa aksi. Kini kita sadar, kenapa resolusi kita tidak terjadi seperti apa yang kita inginkan. Benar, semua ini bersumber dari semangat kita sendiri untuk mewujudkannya. Tingkat semangat yang fluktuatif akan berpengaruh besar pada aksi dari pewujudan resolusi-resolusi kita. Jelas, semangat ini akan sangat erat kaitannya dengan prosesnya. Bak dua sisi mata uang, semangat hanya berada pada satu sisi saja, dan sisi yang lain adalah aksi nyata. Percuma memiliki semangat yang membara tapi tanpa sebuah aksi, tak ada gunanya sebuah aksi tanpa dibarengi dengan semangat yang menggebu pula. Jadi sebenarnya ada suatu wujud korelasi yang kuat antara semangat dan aksi.

Manusia adalah makhluk yang sebaik baiknya. Satu hal yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah kepemilikan atas akal, bukan otak. Karena sejatinya akal berbeda dengan otak. Kambing, kucing, anjing juga memiliki otak sama halnya dengan manusia, namun mereka tidak berakal. Otak itu layaknya sebuah perangkat keras dari suatu fungsi berfikir. Sementara akal, adalah sesuatu yang sejatinya harus kita kaji dan kembangkan sepanjang jaman. Dan, kini saatnya saya meminta anda untuk mendayagunakan akal anda memikirkan sebaik-baiknya resolusi awal tahun anda. Kenapa saya katakan sebagai resolusi awal tahun, bukan akhir tahun ? Karena saya ingin ini menjadi awal perubahan dari kita yang lebih baik Smile bukan sebatas harapan yang berakhir di penghujung tahun 2014 ini tanpa perubahan apapun di tahun berikutnya Smile Sudah ? Luar biasa, kini saya minta diri saya sendiri dan anda, untuk menghebatkan semangat pewujudan resolusi-resolusi ini, menjaga semangat itu sampai akhir tahun nanti, dan mengupayakan keterwujudannya dengan aksi yang nyata. Percaya atau tidak, bahwa sejatinya hidup dengan tujuan akan jauh lebih terarah apabila di bandingkan dengan hidup dengan tanpa tujuan. Jadi tetapkan tujuan anda sekarang, tegaskan hati anda untuk melakukannya, dan pasrahkan semua hasilnya hanya kepada Tuhan.

Karena apapun yang kita lakukan, orang lain akan tetap punya perspektif tentang kita, dan karena pada dasarnya seseorang itu menilai kita dari apa yang kita lakukan bukan apa yang kita pikirkan. Maka hal apapun yang telah anda pikirkan dengan matang, maka bersegeralah untuk anda lakukan dan tetaplah diam, ijinkan kesuksesan anda yang membahasakannya. Anggap cibiran / sindiran orang lain terhadap anda itu layaknya ketika anda berada di atas sebuah perahu dan di belakang anda ada segerombolan hiu yang sedang kelaparan. Yang bisa anda lakukan hanyalah mendayung lebih cepat dan semangat untuk meninggalkan mereka dengan kelaparan mereka jauh di belakang anda, sementara anda berjaya mencapai daratan yang anda ingin capai.

Jadi, mau seperti apa anda ? Memilih untuk berkontemplasi tanpa aksi di tahun 2015 nanti, atau menciptakan resolusi awal tahun dan mewujudkannya secara nyata, atau lebih memilih untuk “go with the flow”, mengikuti arus kehidupan ? Jika pilihan ketiga yang anda pilih, saya rasa anda harus mempertimbangkan kata-kata Albert Einstein “Life is like riding a bicycle, to keep you balance, you must keep moving”. Hidup ini layaknya mengendarai sepeda, untuk membuat anda tetap dalam keseimbangan, satu satunya jalan adalah tetap bergerak maju. Kesuksesan itu membutuhkan pergerakan nyata, bukan sekedar “go with the flow”. Lagipula, hanya ikan mati saja yang berenang mengikuti arus, kan ? Smile

 resolusi

Advertisements

About robofics

Adalah seorang yang masih terus berupaya mencari makna dari kehidupan. Penikmat sastra, seorang plegmatis. Seorang pembelajar dari universitas kehidupan.
This entry was posted in kehidupan, kreatif, pemuda, renungan and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Balas komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s