Iblis Di Masukkan ke Dalam Neraka Merupakan Hukuman ? Atau Anugerah

Ini serius, artikel kali ini saya akan membicarakan masalah iblis. Bagian dari sekian banyak  paham mistisisme yang saya rasa sampai kapanpun tidak bisa terjabarkan secara gamblang oleh pikiran manusia. Ya, karena sejatinya manusia tidak memiliki pengetahuan tentang yang gaib kecuali sedikit saja. Karena kegaiban itu adalah rahasia Tuhan yang transenden. Fenomena kegaiban itu layaknya fenomena gunung es. Apa yang mampu kita ketahui/lihat hanyalah 12% saja dari wujud gunung itu. 88% sisanya ? Tenggelam, berada di kedalaman air kegaiban. Dan air kegaiban inilah yang menjadi batas bagi yang terlihat dan tidak terlihat. Kenapa berbatas ? Untuk menghindarkan manusia untuk mengetahui lebih daripada yang seharusnya. Kenapa seperti itu ? Agar manusia terhindar dari “merasa menjadi Tuhan” karena mengetahui segala hal. Menghindarkan manusia dari menganggap dirinya sebagai yang “Maha” atas segala sesuatu. Pun, jika memang ada pengetahuan yang mampu membuka tabir metafisika itu, maka hasilnya tetap saja berada ranah metafisik, ranah gaib bagi sebagian yang lain yang tidak memiliki ilmu atasnya. Karena sejatinya kita hanya mampu menerka dan mengira, tanpa bisa membicarakan kebenaran yang hakiki atasnya. Karena tetap saja, yang hakiki itu hanya milik sang Khaliq yang Maha mencipta atas segala sesuatu yang ada di dunia ini.

gaib,iblis,setan,manusia,

Jika anda sempat membaca postingan saya sebelumnya yang berjudul Hacking bathukmu sempal. Sebenarnya disana saya sempat menyebutkan tentang Mistisisme. Perumpamaan sederhana tentang yang mistis adalah coba anda perhatikan pohon-pohon di sekitar anda. Apakah anda pernah tahu secara langsung tentang bagaimana sang daun menjadi hijau ? Bagaimana si akar menjalar membelah basah dan dinginnya tanah untuk mencari makan ? Apakah benar si tanah itu menjalar membelah tanah untuk mencari makanan ? ataukah ada kemungkinan lain kenapa si akar menjalar ? Pernahkah anda melihat secara langsung tentang bagaimana makanan itui di bawa ke batang pepohonan untuk di gunakan sebagai makanan ? atau, pernahkah anda melihat secara langsung ketika si pepohonan ini makan ?? Dalam artikel saya yang lain yang berjudul Sudahlah, Berhenti Mempertanyakan Eksistensi Tuhan.  Dosen saya dulu, menggunakan angin sebagai perumpamaan. Ya, meskipun sebenarnya intinya sama saja Open-mouthed smile

Mungkin judul “Iblis Di Masukkan ke Dalam Neraka Merupakan Hukuman ? Atau Anugerah “ akan terdengar aneh bagi kita. Hal ini juga yang saya rasakan ketika pertama kali di tanyai hal yang serupa oleh teman saya. Karena sudah barang tentu si iblis ini di hukum karena menggurui Tuhan, menggurui penciptanya sendiri. Membantah untuk bersujud kepada sang nabi pertama bagi umat. Merasa derajatnya lebih tinggi dari nabi. Iblis yang sejatinya tercipta dari api, menganggap memiliki kasta yang jauh lebih tinggi dan baik daripada manusia pertama yang tercipta dari tanah yang kotor. Ia protes kepada penciptanya, berlagak menggurui penciptanya sendiri. Maka ia pun di hukum untuk berada di neraka. Jadi, sudah barang tentu neraka itu adalah hukuman baginya, bukan anugerah seperti yang ia ucapkan.

Namun teman saya tetap ngotot, berkata bahwa iblis itu tercipta dari api, apa gunanya melawan api dengan api ? bukankah itu hanya akan menimbulkan api yang lebih besar ? Apakakh ini berarti Tuhan terlalu gegabah dalam bertindak ?

“Semprul, ini anak ngotot juga ya dalam berargumen” tukas saya. Tapi seakan mendadak ada bohlam lampu diatas kepala saya. Saya tampar pipinya, kemudian saya menanyakan bagaimana rasanya. Sakit ungkapnya. Sepertinya sudah mulai ada lampu hijau bagi saya untuk berjaya dalam perbincangan ini nampaknya. Sejurus kemudian saya menanyakan hal ini padanya, “kenapa ketika di tampar sakit ? sementara pipi ini terdapat kulit, tangan pun terdapat kulit. Sama-sama kulit, namun kenapa tetap saja merasakan rasa sakit?”.

Dia terdiam, dahinya mengernyit tanda berfikir. Berharap diskusi ini berakhir dengan segera, saya mencoba untuk berargumen lagi agar mengacaukan proses berfikirnya saat itu, agar apa yang ia pikirkan saat ini tidak ia ungkapkan Open-mouthed smile Iblis memang terbuat dari api, dan neraka pun adalah api yang maha dahsyat. Tapi ketika api bertemu dengan api tidak selalu menimbulkan api yang lebih besar. Kita tidak akan pernah tahu apa yang dirasakan oleh sang api ketika ia bertemu denga api. Apakah ia menjadi sakit dan terluka ? ataukah ia semakin mengangkuh dan menghebat dalam kesombongan karena semakin membesar dan membenderang. Kita bukanlah api, kita tidak bisa menjadi api, dan kita tidak pernah bisa merasakan apa yang api rasakan ketika ia bertemu dengan api yang lain.

Jadi, bukan berarti Tuhan gegabah dalam bertindak. Tidak, tidak ada kata gegabah dalam kuasa penciptaan Tuhan. Segala sesuatunya telah di perhitungkan, bahkan untuk hal paling mendetail yang tidak mampu terjangkau oleh akal manusia sekalipun, Tuhan telah memperhitungkannya.

Terlepas dari bentuk hukuman atau anugerah yang di rasakan oleh sang iblis ketika ia di laknat dan di paksa untuk menghuni neraka seumur hidupnya. Maka satu hal yang perlu kita yakini, bahwa yang gaib tetaplah ada, biarlah ia menjadi yang gaib. Biarkan segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya, sebagaimana alurnya. Apabila kita hanya memiliki 12% dari pengetahuan tentang kegaiban itu, maka biarkanlah itu tetap menjadi 12% dan selamanya seperti itu.

Karena, saya lebih memilih untuk memiliki yang 12% dan dianggap menjadi seseorang yang bodoh daripada saya harus melawan eksistensi Tuhan saya sendiri, melawan pencipta saya sendiri. Jadi bagaimana dengan anda ? Masih mau berupaya mengejar yang 88% itu dan merasa “maha” atas segala sesuatu. Atau tetap mempertahankan yang 12% dan menjadi pribadi yang semakin memiliki kedekatan interpersonal dengan Rabb sang pencipta semesta serta tetap mengijinkan kegaiban itu tetap berada pada ranah mistisme, ranah yang hanya di ketahui oleh Rabb yang transenden ? Kini anda yang menentukan Smile

Advertisements

About robofics

Adalah seorang yang masih terus berupaya mencari makna dari kehidupan. Penikmat sastra, seorang plegmatis. Seorang pembelajar dari universitas kehidupan.
This entry was posted in renungan and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Balas komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s