Hidup ini seperti laptop

Laptop, adalah sebuah piranti yang sudah tidak asing lagi di telinga kita semua. Layaknya komputer lainnya, laptop sangat membantu kita untuk menyelesaikan masalah kita, terutama yang berkaitan dengan komputasi. Mengerjakan laporan, mengerjakan soal matematis, bermain game, mendesain, sampai dengan melakukan tindak kejahatan di dunia maya(misal: hacking) sekalipun bisa di lakukan melalui komputer jinjing ini. Seakan semua hal yang kita butuhkan telah ada dan terprogram di dalam laptop kita itu.

Sekarang coba sahabat hidupkan laptop kita. Apabila saya minta sahabat untuk mengetikkan pekerjaan rumah/laporan kuliah/skripsi/tesis/disertasi  sahabat, apa yang sahabat gunakan ? Bagi yang akrab dengan sistem operasi windows, pasti akan memilih untuk menjawab “Microsoft Word”, dan bagi yang mengenal sistem operasi linux, mungkin akan menjawab “OpenOffice”. Apabila saya menanyakan tentang bagaimana cara menjawab pertanyaan yang sifatnya matematis dengan menggunakan laptop? Pasti akan serta merta sahabat menjawab Microsoft Excel. Dan mungkin untuk pertanyaan lain, akan ada sederet nama aplikasi yang bisa kita gunakan untuk menyelesaikan masalah kita yang berkaitan dengan hal komputasi.

Namun, tahukah sahabat ? Bahwa sebenarnya hidup kita itu juga seperti laptop yang saat ini kita miliki ? Otak manusia adalah pusat informasi, pusat pemrosesan dari segala masalah yang di hadapi. Segenap indra kita merupakan saraf sensoris yang melalui neurotransmitter mengirimkan ribuan impuls-impuls informasi dari luar menuju ke otak kita untuk selanjutnya kita proses dalam otak kita. Otak kita layaknya sebuah Central Processing Unit(CPU), juga sebagai media penyimpanan informasi, harddisk kehidupan kita.

Bukanlah laptop tanpa sistem operasi, bukan pula sistem operasi apabila tak ada piranti keras yang mendukungnya. Begitu pula kehidupan kita, hati kita ini layaknya sistem operasi dalam kehidupan kita. Bersama-sama dengan otak kita, saling bersinkronisasi, bersinergi untuk menemukan solusi dari setiap permasalahan kita.  Maka sebenarnya solusi dari setiap masalah itu ada pada diri kita sendiri, ada pada pikiran dan hati kita.

Layaknya sebuah komputer, otak dan hati kita akan teracuni oleh virus yang hanya akan merusakkan sistem kita, merusakkan paradigma kita dalam berfikir. Virus itu adalah pikiran negatif orang lain, pikiran orang lain yang  mendistorsi, bahkan merubah paradigma kita akan sesuatu. Membebani hati dan pikiran kita, membebani kinerja keseluruhan sistem kehidupan kita untuk bekerja. Maka jangan biarkan hati dan pikiran kita  terdistorsi oleh virus-virus orang lain. Karena apapun yang kita lakukan, orang lain akan tetap mempunyai pendapat tentang kita. Maka lakukanlah apapun yang kita anggap bisa kita lakukan, jangan terpengaruh pikiran negatif orang lain. Dan ijinkan kesuksesan kita yang membahasakannya. Ijinkan kesuksesan kita yang mematahkan perspektif orang lain itu tentang kita. Kesuksesan kita,semangat kita dalam menjalani hidup adalah “Antivirus” dari kehidupan kita.

Layaknya sebuah komputer, kehidupan kita akan mengalami “Deadlock”. Deadlock adalah kondisi terparah dimana banyak proses dapat terlibat dan semuanya tidak dapat mengakhiri prosesnya secara benar. Karena manusia yang terlalu tidak sabaran, terlalu menginginkan begitu banyak hal untuk tercapai dalam waktu yang bersamaan, Maka otak dan hati kita di paksa untuk bekerja untuk menemukan solusi dari masalah-masalah kita dalam waktu yang bersamaan pula. Maka timbullah “Deadlock kehidupan”. Namun, untuk masalah deadlock ini, sebenarnya hampir semua sistem operasi telah memiliki mekanisme penanganan deadlock. Seperti itu pula kehidupan kita. Segala solusi dari setiap masalah sebenarnya telah terprogram dengan baik pada pikiran dan hati kita. Namun, ketika kita mengalami kebuntuan, karena ada kondisi “deadlock”, kondisi saat kita benar-benar terpuruk dan bahkan tidak tahu harus berbuat apa, Sejatinya hanya ada 2 solusi bagi kita. Melakukan “force Shutdown”, yang berarti kita menyerah pasrah pada keadaan saat ini dan tidak akan melakukan apapun. Atau, memilih untuk berserah pasrah kepada Tuhan, menyerahkan semuanya kepada Tuhan, dengan segenap upaya yang telah kita lakukan, maka kini saatnya kita pasrahkan semuanya kepada Tuhan kita. Jadi, mekanisme apa yang anda tentukan untuk menangani “Deadlock” di kehiudpan anda ? Kini anda yang tentukan Smile

Selain Deadlock, tentu ada kalanya kita akan mengalami kondisi “starvation”. Bagi anda yang bergelut pada dunia Informatika pasti tahu apa yang di maksud dengan starvation. Starvation adalah keadaan dimana pemberian akses bergantian terus­‐menerus, dan ada suatu proses yang tidak mendapatkan gilirannya. Seperti itu pula kehidupan kita, karena Begitu banyaknya hal yang ingin kita lakukan dan cepat selesai. Maka ada kalanya kita melakukan sesuatu secara bersamaan. Ketidak mampuan kita melakukan terlalu banyak proses secara bersamaan. Membuat kita, entah sadar atau tidak. Mengabaikan satu atau lebih proses itu. Sampai pada akhirnya kita terlupa betapa pentingnya itu. Contoh kasus “Starvation”  dalam kehidupan kita adalah Ibadah. Kita yang terlalu sibuk mengerjakan sesuatu(menonton televisi misalnya) akan di sibukkan dengan rutinitas itu. Segenap indra kita tertuju pada televisi itu. Tak ada hal lain yang bisa mendistorsi fokus kita saat itu. Ketika jeda iklan di tayangkan, kita kemudian berfokus pada smartphone kita. Menunggu sampai film kesukaan kita itu ditayangkan kembali. Dan fokus kita kembali pada televisi. Tv, smartphone, Tv, smartphone, begitulah proses fokus kita berulang secara terus menerus. Sampai ketika kita mendengar panggilan untuk beribadah di kumandangkan, tetap saja kita mengabaikan dan berfokus pada TV dan Smartphone kita. Semenit, dua menit, lima menit berlalu, tak ada perubahan dalam diri kita. Tetap saja fokus kita pada dua hal tersebut. Sampai pada akhirnya waktu kita untuk beribadah berakhir. Sayangnya, pada kenyataannya kasus starvation dalam kehidupan ini selalu dikaitkan dengan ibadah. Ibadah selalu menjadi “proses yang terabaikan”. Sebenarnya, solusi masalah starvation ini ada pada sisi brainware. Pada sisi penggunanya. Tentang bagaimana kita mengatur prioritas. Hal apa saja yang harusnya kita lakukan terlebih dahulu, dan hal mana saja yang harusnya kita lakukan belakangan. Semua itu tergantung dair kita sendiri. Dari sisi Brainware. Jadi, hal mana yang anda dahulukan ? Kini semua tergantung dari anda sebagai brainware, sebagai end-user dari segenap sistem kehidupan anda Smile

Advertisements

About robofics

Adalah seorang yang masih terus berupaya mencari makna dari kehidupan. Penikmat sastra, seorang plegmatis. Seorang pembelajar dari universitas kehidupan.
This entry was posted in kehidupan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Balas komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s