Dimaafkan, Memaafkan, dan Tidak Memaafkan

Maaf adalah suatu bentuk pembebasan seseorang dari hukuman,denda,tuntutan karena suatu bentuk kesalahan yang tercipta karena ulahnya sendiri, suatu ampunan. Namun, maaf yang hakiki adalah yang merupakan ekspresi keterbebasan rohani dari belenggu kesalahan. Sementara banyak diantara kita yang menggunakan maaf sebagai media pembenaran atas kesalahan. “Maafkan aku kali ini, dan akan ku ulangi lagi kesalahanku di lain hari”, bisik setan kecil dalam hati. Bukan, Maaf yang sejati bukanlah maaf yang terdistorsi oleh hal-hal yang tendensius. Maaf yang hakiki adalah kondisi di mana kita benar-benar dalam kesadaran yang optimum atas kesalahan kita dan tidak akan pernah sekalipun mengulangi apa yang kita perbuat sebagai suatu bentuk kesalahan.

Dimaafkan adalah kondisi dimana kita di bebaskan dari hukuman karena suatu kesalahan yang kita ciptakan. Dimaafkan terlahir dari proses “meminta”, proses sadarnya rohani atas “mental block” diri, dari blok blok mental yang membatasi seseorang untuk mendewasa dalam setiap pikiran dan tindakannya. Dimaafkan berarti kita telah dengan sadar diri mengakui bahwa yang kita lakukan adalah suatu bentuk kesalahan yang tidak sepantasnya kita lakukan dan “meminta” hak kita untuk di maafkan, meskipun dengan segala belenggu hukuman yang terkadang masih mengikat, meskipun secara eksplisit maaf itu sudah kita dapatkan.

Memaafkan, dalam stratifikasi maaf, memiliki kasta paling tinggi. Memaafkan adalah suatu bentuk perjuangan yang terkadang sering tidak ringan. Memaafkan berarti kita menerima maaf orang lain. Menerima proposal permaafan dari orang yang berbuat salah. Meniadakan ego atas diri kita dan menghadirkan sentuhan Tuhan dalam hati kita agar dalam proses memaafkan itu tidak ada belenggu-belenggu dengki yang menghancurkan kemurnian maaf itu sendiri. Memaafkan adalah suatu bentuk sinergi antara ketulusan hati, dan sentuhan ilahi. Maaf yang hakiki adalah maaf yang sinergis, wujud sinkronisasi antara hati yang ikhlas,ketiadaan ego diri, dan kuasa Pemaafan Tuhan. Bukan  sebatas maaf yang terucap dari bibir semata namun hatinya mengobarkan kedengkian mahadahsyat. Bukan maaf yang terkontaminasi oleh ego diri.

Berbeda dengan memaafkan, Tidak memaafkan sendiri berada pada strata paling rendah. Kasta paling bawah dalam stratifikasi maaf. Tidak memaafkan berarti kita memilih untuk menggumpalkan beban psikologis kita menjadi gumpalan-gumpalan yang menyumbat hati. Bukan hati dalam makna fisik. Bukan organ badan yg berwarna kemerah-merahan di bagian kanan atas rongga perut. Bukan pula hati yang mengambil setiap sari-sari makanan dan menciptakan empedu. Bukan, bukan hati itu yang saya maksudkan. Tapi hati dalam ranah psikis. Hati ruhaniah bukan yang jasadi, hati pendukung akal kita untuk merasa.  Gumpalan psikologis ini biasanya berupa watak dendam,dengki,amarah dan watak lain yang merusakkan hati, bukan gumpalan yang fisik, bukan daging, bukan pula bekuan darah. Hanya gumpalan ruhaniah, gumpalan psikologis.

maaf,memaafkan,dimaafkan,cinta,kasih sayang,motivasi,kehidupan,doa,pengharapan

Memaafkan, Dimaafkan, dan tidak memaafkan, apabila di gambarkan dalam sebuah bentuk segitiga maka akan terlihat seperti gambar diatas. Terlihat jelas bahwa tidak memaafkan akan berada pada kasta paling rendah dengan space paling besar. Semakin ke bawah segitiga itu maka semakin besar pula kemungkinannya untuk terjadi, dan semakin naik ke atas maka semakin sulit hal itu di dapatkan / di lakukan. Semakin keatas segitiga itu, maka semakin besar pula sentuhan kuasa Pemaafan Tuhan atas kesalahan. Ini berarti, semakin tinggi stratanya, maka semakin besar ia melibatkan unsur Tuhan dalam prosesnya, semakin ia meniadakan ego atas dirinya, dan semakin besar komposisi keikhlasan dalam tindakannya.

Jadi, kini anda yang tentukan. Mau menjadi pribadi yang senantiasa berada pada kasta paling atas dalam stratifikasi maaf, atau berada pada kasta paling rendah. Manusia adalah tempatnya salah dan dosa. Adakalanya kita perlu memaafkan kesalahan, namun terkadang kita sering kita menciptakan kesalahan yang sejatinya perlu kita upayakan “stempel maaf” dari seseorang yang tersakiti hatinya atas apa yang kita lakukan baik secara sadar maupun tidak. Besarkan hati kita untuk memaafkan, Tegaskan hati kita untuk mengupayakan untuk di maafkan ketika kita berbuat salah dan jangan pernah ulangi lagi apa yang kita lakukan dengan salah. Lalu jauhi apapun yang membuat kita menjadi pribadi yang tidak memaafkan.

maaf

Advertisements

About robofics

Adalah seorang yang masih terus berupaya mencari makna dari kehidupan. Penikmat sastra, seorang plegmatis. Seorang pembelajar dari universitas kehidupan.
This entry was posted in kehidupan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Balas komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s