tanya pada yang ahli, bukan yang engkau anggap bisa

Abdul, sebut saja namanya begitu. Seorang pria yang memang sedari awal dekat dengan tetangganya sedari kecil, Mawar. Sampai entah mengapa setiap masalah yang di hadapi mawar pun seakan belum afdol apabila belum di ceritakan kepada Abdul. Bahkan untuk urusan internal keluarga Mawar sekalipun, Abdul paham betul seluk beluknya. Mungkin apabila di ibaratkan, ketika ada jarum jatuh di rumah Mawar pun, Abdul dapat dengan begitu jelas mendengar suara jatuhnya. Sampai suatu ketika Mawar pun menceritakan tentang perlakuan kasar sang suami kepada Abdul. Abdul pun menciut, siapapun di kampung itu tahu  siapa suami Mawar. Seorang Pelatih silat kawakan yang telah lama berlanglang buana di dunia persilatan. Jawara di kampungnya. Mungkin, dengan sekali jurus saja, Abdul sudah barang tentu akan mati sia-sia jika tetap memberanikan diri untuk menegur suami Mawar. Bahkan terkadang terlihat begitu yakin ia menyarankan Mawar untuk  bercerai dari sang suami. Alasannya jelas, agar Mawar tidak lagi merasakan tekanan batin jika harus berada serumah dengan sang jawara silat itu.

Malangnya, Saya yang kebetulan merupakan teman Abdul sedari SMP pun mendapat cipratan kisahnya yang menyarankan Mawar untuk bercerai. Sontak saya terkejut. Dahi saya mengernyit tanda berfikir. “Bro, jangan ceritain masalah kaya gitu ke aku bro. Aku ga mau ikut campur bro. Bukan kapasitasku buat menyimpulkan sikapmu bener enggak.”.

Sayapun memilih untuk mengelak dari percakapan ini, karena jelas saya belum memiliki kapasitas untuk hal semacam ini. Saya lebih baik mundur jika harus di minta untuk memberikan solusi. Namun dalam hati saya tetap berfikir, bahwa sejatinya terlalu gegabah jika Abdul harus menyarankan si Mawar untuk bercerai. Kenapa ? Karena Abdul hanya mendengarkan kisah dari satu sudut pandang saja. Sudut pandang Mawar sebagai seorang istri. Ia bahkan belum tahu tentang kenapa suaminya tega berlaku kasar pada mawar. Abdul melupakan bahwa ia juga harus mengambil sudut pandang sang suami. Bukan dari satu sisi saja kemudian menyimpulkan.

Mungkin, tidak hanya Abdul yang mengalami hal yang serupa. Dalam kasus lain pun, akan ada ritual “curhat” pada seseorang. Mencurahkan seluruh isi hati yang menyesakkan dada. Namun, terkadang banyak kasus dimana yang di curhati ini malah salah memberikan nasihat. Karena mungkin saja si pemberi nasihat ini lebih cenderung menggunakan “unsur rasanya” dan serta merta menganggap si pencurhat itu adalah yang benar. Tanpa ia menilik dari sudut pandang pihak ketiga, sang “objek pembicaraan”. Atau bisa juga si pemberi nasihat ini memang ada faktor “agenda tersembunyi” yang ia selipkan dalam nasihat-nasihat yang seolah begitu bijak ia sampaikan. Mungkin, secara psikologis, si pencurhat akan merasa lebih nyaman dengan yang di curhati. Menurut saya, ini salah satu tahap  “building rapport”  jika di samakan dengan fase hipnosis. Suatu fase untuk membangun kedekatan interpersonal secara singkat dengan si pencurhat, untuk memberikan rasa aman dan nyaman. Apabila rasa aman dan nyaman ini telah terbangun, maka si penerima curhatan akan dengan mudah menyelipkan agenda-agenda tersembunyinya ke pikiran korban. Dan, mungkin hampir 80% dari agenda tersembunyi tersebut, saya yakin bahwa itu bertendensi pada cinta dan sayang. Maka objek utama dari agenda tersembunyi tersebut adalah hati si pencurhat.

Well, terlepas dari apapun itu. Alangkah lebih bijak ketika kita “curhat” kepada orang yang benar-benar ahli. Seorang psikolog misalnya. Mereka adalah orang yang akan memberikan solusi tanpa bertendensi apapun. Maka Tanyakanlah pada yang ahli, bukan pada seseorang yang berupaya mengahlikan diri. Cari seseorang yang benar-benar ahli, yang dalam kehidupannya memang di dedikasikan untuk “menerima curhatan” dan memberikan solusi yang baik bagi semua pihak. Seseorang yang tidak memiliki tendensi apapun dalam pemberian nasihatnya. Seseorang yang bisa berlaku fair, maksud saya, tidak hanya menitik beratkan pada anda sebagai pencurhat, tetapi juga orang lain atau hal lain yang menjadi objek pembicaraan itu sendiri. Sehingga solusinya adalah benar-benar solusi yang membangun, bukan solusi yang mementingkan satu pihak saja. Apalagi mementingkan si penerima curhat Open-mouthed smile Terlebih, carilah orang yang tahu benar tentang “client centered therapy”, yang menitik beratkan pada sisi klien sebagai inti dari terapi  itu sendiri. Orang yang mengerti bahwa sumber dari setiap permasalahan itu adalah pikiran itu sendiri. Jadi carilah orang yang benar-benar bisa mengarahkan pikiran sang pemberi curhat untuk menemukan solusi permasalahannya, bukan memaksa si pencurhat untuk melakukan solusi yang kita berikan karena tendensi tertentu.

Saya terkadang, bahkan di bilang sering. Berfikiran negatif dengan seseorang yang mengahlikan diri dan mencoba untuk memberikan solusi tanpa mempertimbangkan si objek pembicaraan. Jadi terkadang solusinya itu terlihat begitu awur-awuran. Sesuai kehendak hati penerima curhatan. Maka saya akan sangat menyarankan bagi siapapun, yang mungkin berniat untuk mencurahkan isi hatinya. Maka carilah orang yang benar-benar memiliki keahlian untuk itu. Psikolog misalnya. Bukan seseorang yang abal-abal, seseorang yang mengahlikan diri. Seseorang yang memiliki tendensi tertentu. Bukan kepada saya, bukan kepada Abdul, atau siapapun yang tidak memiliki kapasitas untuk memberi solusi secara adil.

Namun, terkadang ada seseorang yang mencurahkan isi hati, hanya agar   ia di dengarkan, hanya agar eksistensinya di hargi. Jika tujuan anda melakukan curhat adalah agar anda sekedar di dengar. Maka carilah seseorang yang benar-benar di percaya, carilah seseorang yang benar-benar bisa menjaga rahasia. Bukan seseorang yang mengatakan akan menjaga rahasia, tapi tetap menjaga rahasia anda sebagai rahasia umum Smile

Maka, siapapun anda, apapun permasalahan dalam hidup anda. Tanyakanlah pada yang ahli, bukan pada seseorang yang anda anggap bisa. Karena terkadang yang kalian anggap bisa itu belum tentu ahli. Namun yang ahli, sudah hal yang mutlak apabila dia adalah seseorang yang bisa, bukan sebatas yang anda anggap bisa.

Advertisements

About robofics

Adalah seorang yang masih terus berupaya mencari makna dari kehidupan. Penikmat sastra, seorang plegmatis. Seorang pembelajar dari universitas kehidupan.
This entry was posted in kehidupan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Balas komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s