hal yang tak pernah akan pernah bisa terbeli oleh harta

Ini adalah kisah tentang Abdul. Pemuda kaya raya yang dulunya melarat luar biasa. Kegigihannya dalam bekerja ternyata telah berhasil merubah jalan hidupnya. Layaknya orang kaya pada umumnya, gaya hidupnya berubah. Selera tentang makanannya berubah. Bahkan, pola pikirnya pun berubah. Gemerlap harta telah sukses merubah pikirannya. Ketamakan mulai merajai hatinya. Hingga pada suatu ketika, percakapannya dengan ibunya membuatnya tersadar. Bahwa sejatinya ada hal di dunia ini yang tak akan pernah bisa terbeli oleh harta.

Abdul : Ibu, kini aku telah kaya. Apapun yang aku inginkan kini bisa tercapai. Semua hal bisa ku beli dengan uangku, ibu.

Ibu : Wahai anakku, janganlah engkau berbangga diri. Karena ada hal yang tak akan pernah engkau mampu membelinya dengan kekayaanmu kini.

Abdul : Omong kosong! Tunjukkan padaku apa itu, dan akan aku beli dengan harga yang amat tinggi.

Ibu : Baiklah nak, jika itu yang engkau mau. Maka ibu akan memberitahukanmu tentang hal yang tak pernah bisa kamu beli dengan uang, tak peduli seberapa banyakpun hartamu di dunia ini. Anakku, bagaimana bila aku memberikan tarif satu milyar untuk setiap tetes ASI yang aku berikan padamu ? Bagaimana bila aku memberikan harga 1 milyar untuk setiap tetes peluh yang aku keluarkan ketika aku harus berjuang melahirkanmu ? Bagaimana jika aku memberikan tarif yang sama untuk setiap rasa sakit yang harus aku rasakan ketika aku melahirkanmu ? Untuk setiap kata yang aku ajarkan padamu ketika engkau bayi hingga mendewasa. Untuk setiap pelukan yang aku berikan padamu. Untuk setiap kasih sayang yang aku curahkan padamu sedari engkau kecil ? 

Mendengar perkataan ibunya, batin Abdul seakan tersentak. Tatapannya kosong entah kemana, hatinya tak karuan betapa remuknya. Tanpa ia sadari, air matanya semakin deras mengalir membasahi pipinya. Gravitasi bumi menariknya ke bawah menuju tanah. Seakan tanah pun berisyarat, bahwa ia ingin meredam hati yang berkecamuk dan sedari tadi tersayat terluka atas ucapannya sendiri. Abdul tersungkur di pangkuan ibunya. Nafasnya sengal dan kian memberat. Bukan puisi yang ia sampaikan pada sang ibu, hanya kata maaf yang dengan terbata ia ucapkan. Tangisnya semakin menjadi, nafasnya kian menyengal. Nafasnya yang sengal membuat suplai oksigen ke otaknya berkurang. Air mukanya memerah, nafasnya kian memberat. Abdul pun tak kuasa menahan dadanya yang kian menyesak. Ia pun kini mulai limbung.

Sahabat, Apakah kalian tahu inti dari cerita di atas ? Bahwa sejatinya tak semua hal di dunia ini dapat di beli dengan uang. Cinta dan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Bahwa pengorbanan seorang ibu tidak pernah akan tergantikan oleh apapun. Bahkan jika harus menuliskan kata terima kasih kepada ibu kita. Maka saya yakin, saya percaya, bahwa meskipun seluruh kertas di dunia ini telah habis. Tak akan pernah bisa membayar pengorbanan seorang ibu kepada anaknya.

Bukanlah harta yang seorang ibu inginkan atas anaknya, bukan pula ucapan terima kasih. Karena pengorbanan luarbiasa yang seorang ibu lakukan itu bukan bertendensi pada materi. Tidak, bukan itu yang ibu inginkan. Seorang ibu hanya menginginkan sang anak bahagia, tidak mengalami kesengsaraan. Bahkan jika seorang ibu harus memilih. Ia akan memilih untuk mengambil dan mengalami setiap kesengsaraan di dunia ini, asalkan anaknya tidak merasakan hal yang sama.

Betapa luarbiasanya perjuangan seorang ibu. Namun masih banyak dari kita yang terkadang tidak peduli dengan apa yang ibu kita ucapkan. Meskipun itu adalah kebaikan yang akan menghebatkan kita. Ingatkah kalian, kapan terakhir kalinya kita mengungkapkan rasa sayang kita terhadap ibu kita ? ingatkah kita pernah membentak dan membantah ibu kita. Pernahkah kita memikirkan tentang betapa sakitnya hati seorang ibu ketika kita melawannya ? Pernahkah kita tahu betapa remuknya hati seorang ibu karena pengorbanannya selama ini di balas dengan hal yang sama sekali tidak pernah ia harapkan ?

Sahabat, waktu akan terus berputar. Tidaklah ia mau menunggu kita yang lamban dalam bersikap. Nanti, entah kapan. Pastilah kita akan menjadi orang tua. Merasakan hal yang sama dengan apa yang orangtua kita dulu rasakan. Karma itu nyata adanya, jika kini kita menyianyiakan orang tua kita. Maka nanti ketika kita menua dan menjadi orang tua atas anak-anak kita. Maka bukan hal yang mustahil bahwa anak-anak kita nanti juga akan melakukan hal yang sama dengan apa yang kita lakukan kepada orangtua kita. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, bahkan tidak untuk satu detik kedepan. Maka sebelum semuanya terlambat dan menyisakan sesal yang menyesakkan dada. Maka akan jauh lebih baik jika kita menjaga orang tua kita sebaik yang kita mampu. Karena ada begitu banyak orang di luar sana, yang mungkin tidak bisa merasakan kasih sayang seorang ibu seumur hidupnya.

Ibu, inilah aku, inilah tulisanku untukmu. Terima maafku atas ketidak dewasaanku dalam bersikap. Ijinkan aku mendewasa dalam kebaikan dan semakin meyakinkanmu bahwa memiliki aku sebagai anakmu adalah suatu kebanggaan yang luarbiasa. ibu

Advertisements

About robofics

Adalah seorang yang masih terus berupaya mencari makna dari kehidupan. Penikmat sastra, seorang plegmatis. Seorang pembelajar dari universitas kehidupan.
This entry was posted in kehidupan, renungan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

One Response to hal yang tak pernah akan pernah bisa terbeli oleh harta

  1. Pingback: Selamat hari ibu ? Jadi hanya satu hari untuk menghargai ibu ? | Universitas kehidupan

Balas komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s