Mahasiswa dan ember yang belum terisi penuh

Suatu ketika. seorang dosen tengah mengajar mahasiswanya di kelas. Beberapa menit sebelum waktu berakhir. Mendadak sang dosen memberitahukan bahwa ini adalah saat yang tepat untuk mengadakan quiz. Ruangan menjadi hening, mata mereka terbelalak. Ketidaksiapan mereka menghadapi quiz membuat mereka mulai meracau. Argumen demi argumen kini bersahutan, memecah keheningan yang baru saja tercipta. Mulai dari mengeluhkan waktu yang sangat sedikit, sampai dengan belum begitu paham dengan materinya. Ah, ini hanyalah alasan klise mahasiswa. Hanya sekedar upaya terselubung untuk membatalkan quiz hari itu.

Sang dosen pun tersenyum. Kemudian ia keluarkan sebuah ember dari bawah laci, kemudian ia ambil batu-batu besar, kira-kira sebesar genggaman tangan dan ia masukkan ke dalam ember dan menata batu-batu itu sampai tiada lagi ruang tersisa di ember itu. Sejurus kemudian sang dosen melemparkan pertanyaan kepada para mahasiswa. “apakah ember ini sudah penuh?” tanya sang dosen. “Sudaah” Sahut mahasiswa serempak. Dosen itu hanya menggelengkan kepalanya lembut, tanda ia tidak setuju dengan apa yang di utarakan mahasiswanya. Kemudian kembali ia ambil kerikil-kerikil kecil dan ia masukkan ke dalam ember, kerikil-kerikil itupun jatuh ke bawah memenuhi celah-celah antara batu yang besar sampai tak ada lagi celah tersisa bagi kerikil untuk mengisi ember. “Apakah ember ini sudah penuh?” tanya sang dosen kembali. “Ehm, mungkin belum” jawab salah seorang mahasiswa. “Bagus sekali” ungkap sang dosen. Kembali ia ambil pasir dan ia masukkan lagi ke dalam ember. Pasir-pasir ini pun mengisi rongga-rongga antara batu besar dan kerikil sampai tak ada lagi ruang tersisa bagi pasir untuk mengisi ember. Kemudian, pertanyaan yang sama kembali ia lontarkan. “Apakah ember ini sudah penuh?” tanyanya kembali. “Belum” para mahasiswa menjawab serempak. “Luar biasa” ucap sang dosen. Kembali ia ambil sebotol air dan ia tuangkan ke dalam ember, sampai tak ada lagi ruang yang tersisa bagi air untuk mengisi ember itu.

Mungkin kini ada satu pertanyaan dalam benak anda, darimana datangnya semua benda-benda itu. Apakah dari kantong ajaib doraemon ? haha, sudahlah. Bukan itu inti dari apa yang ingin saya sampaikan. Namun tentang ember dan apa yang mampu ia tampung di dalamnya. Ember ini sejatinya tidak akan mampu menampung sebegitu banyak benda apabila anda meletakkan yang kecil-kecil dulu, kerikil misalnya. Coba anda lakukan, masukkan yang kecil-kecil dulu ke dalam ember. Apakah masih ada ruang tersisa bagi batu-batu yang lebih besar? Jawabannya pasti sama..Tidak!

Ember itu layaknya kehidupan kita,hati kita, dan pikiran kita. Sebuah sinergi antara ketiga hal tersebut. Batu-batu besar,kerikil,pasir, dan juga air adalah segala hal yang terjadi dan harus kita lalui dalam kehidupan kita, masalah-masalah kita, atau hal-hal yang ingin kita capai misalnya. Ketika anda menyibukkan diri untuk melakukan hal-hal kecil, anda akan melupakan yang besar, anda bahkan tidak akan sempat untuk melakukan yang besar. Namun, ketika anda meletakkan hal-hal besar itu diawal dan bersegera anda lakukan. Maka sejatinya anda telah memantaskan diri anda untuk menerima begitu banyak hal-hal kecil lain yang bahkan tidak anda duga akan anda dapatkan. Yang akan menjadi pelengkap kebahagiaan hidup anda.

Waktu terus berputar, anda dapat menghancurkan sebuah jam. Namun anda tidak akan bisa menghentikan sang waktu. Waktu akan terus berjalan, tidaklah ia mau menunggu anda yang bergerak begitu lamban. Kini anda semakin menua, bahkan merenta. Maka, sebelum akhir dari kehidupan ini menghampiri anda. Pastikan, tanyakan pada diri anda. Tentang batu besar apa dalam kehidupan anda yang harus dan bersegera untuk anda lakukan. Kita adalah apa yang kita pikir bisa kita lakukan. Jadi ketika anda berfikir bisa melakukan sesuatu, maka segeralah lakukan Smile

Dengan bersegera menemukan “batu-batu besar” dalam kehidupan anda, berarti anda telah bersegera menyiapkan diri untuk mendapatkan hal-hal lain yang akan melengkapi hidup anda. Bahwa sejatinya anda telah memantaskan diri anda untuk mendapatkan kebahagiaan yang lengkap, yang sempurna, tanpa paripurna Smile

Jadi, semangat untuk menemukan yang besar, ya Smile

Advertisements

About robofics

Adalah seorang yang masih terus berupaya mencari makna dari kehidupan. Penikmat sastra, seorang plegmatis. Seorang pembelajar dari universitas kehidupan.
This entry was posted in kehidupan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Balas komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s