goped dan teori hobi yang tak terbantahkan

Goped, mungkin bagi sebagian orang Indonesia masih terdengar begitu asing di telinga kita. Karena belum begitu populernya goped di kalangan warga Indonesia, di Jogjakarta khususnya, tempat dimana saat ini saya tinggal. Jadi mungkin sedikit susah juga bagi saya untuk mendefinisikan seperti apa goped itu sebenarnya. Silakan merujuk ke laman pencarian google atau jejaring berbagi video seperti youtube untuk melihat detail yang lebih jelas tentang seperti apa goped itu sebenarnya. Namun, sejauh yang mampu saya definisikan, secara sederhana goped itu layaknya otoped hanya saja dia bermesin. Sehingga kita tidak perlu susah payah untuk menggerakkan kaki kita untuk mengayuh agar goped ini dapat bergerak. Berawal dari sebuah video di youtube, kakak saya tepatnya, memiliki inisiatif untuk merakit sendiri goped ini. Karena apabila membeli secara langsung (import) dari Amerika, maka biaya yang harus di keluarkan di kisaran 12 juta an rupiah. Angka yang sebenarnya cukup fantastis untuk sebuah otoped bermesin. Terlebih, ini juga angka yang teramat fantastis terutama bagi saya, untuk mengakomodasi sebuah keinginan yang kini justru mengendap menjadi sebuah hobi yang di geluti kakak saya itu.

Karena ketertarikannya tentang goped itu, ia rakit sendiri gopednya, berbekal mesin pemotong rumput sebagai motor penggeraknya. Dan setelah jadi, ternyata apabila di kalkulasi hampir menelan biaya 7 jutaan. Memang jauh apabila di bandingkan dengan kita membeli secara langsung, namun, tetap saja ini menjadi hobi yang menguras kantong terlalu dalam. Kurang lebih 3 bulan setelah perakitan awal sampe tahap finishing yaitu proses pengecatan, seakan tak ada waktu untuk membuang waktu dengan kegiatan lain selain mengurusi gopednya ini. Dan, setelah selesai prosesnya kurang lebih hasilnya seperti  ini

goped1

Well, sebenarnya bukan goped yang ingin saya soroti disini, tapi tentang kenapa sebuah hobi yang menelan dana yang gila-gilaan masih saja di lakukan dan dipertahankan, padahal sebenarnya mungkin dengan uang itu, kita bisa melakukan hal lain yang secara logika, lebih memberi nilai kebermanfaatan di banding dengan pemuasan hobi itu sendiri.

Apabila kita merujuk pada Kamus besar Bahasa Indonesia, hobi adalah kegemaran atau kesenangan istimewa pada waktu senggang, dan bukan sesuatu yang merupakan pekerjaan utama. Lalu, kenapa hobi yang menelan biaya yang besar itu masih saja dipertahankan ? Well, karena menurut saya hobi itu yang di kejar adalah ranah kesenangan, maka apabila “unsur kesenangan” itu belum terpenuhi, maka si penghobi akan terus menerus mengupayakan agar kesenangan itu tercapai. Bagi mereka, hobi itu merupakan sarana untuk relaksasi dan pencapaian kepuasan batin. Jadi masalah materi adalah hal yang sekunder, selama kepuasan itu belum tercapai, maka apapun akan dilakukan untuk mengupayakan kepuasan batin tersebut.

Namun, banyak penghobi yang terkadang terlalu menganak emaskan hobi mereka, sehingga terkadang mereka lupa ada sisi lain kehidupan mereka yang harus mereka jalani. Itu kenapa saya mendefinisikan teori saya sendiri, bahwa hobi itu adalah proses penggapaian kepuasan batin. Jadi, apabila sang batin belum terpuaskan oleh upaya yang kita lakukan, maka sang batin akan mengkontaminasi otak ktia, distorsi yang di terima otak inilah yang menyebabkan otak kita memerintahkan tubuh kita untuk bergerak, berupaya mewujudkan kepuasan yang terdefinisikan oleh batin kita.

Aha! Mungkin sekarang di benak anda muncul sebuah pertanyaan, bagaimana caranya agar hobi ini tidak mengganggu kehidupan kita, baik secara psikologis,moril, maupun materiil ?

Well, memang agak susah di lakukan mengingat hobi yang bersifat adiksi ini. Namun, setidaknya anda bisa menanamkan dalam benak anda, apabila tetap ingin melanjutkan hobi anda itu, maka penuhi dulu yang penting. Hobi itu adalah kebutuhan sekunder. Jadi, tugas utama anda adalah memenuhi kebutuhan yang primer dulu, dan apabila telah tercukupi semua yang primer, maka sisihkan sedikit untuk mengakomodasi hobi anda, sehingga yang sekunder tidaklah mengganggu yang primer.

Kedua, apabila anda memilih hobi, pastikan bahwa anda memilih hobi yang tepat. Maksud saya, nanti entah kapan, ketika anda membutuhkan uang, maka anda masih bisa mendapatkan uang dari apa yang anda sebut sebagai hobi anda.

Sebagai contoh, goped milik kakak saya ini. Dia kini sering menyewakan gopednya itu dan mendapatkan uang dari persewaan gopednya ini. Ditambah lagi, dia memiliki angan-angan untuk mendirikan toko khusus untuk perakitan, dan penjualan aksesories goped ini di wilayah Indonesia. Di tambah, nanti ketika goped ini telah menjamur. Dia berharap bisa bekerja  sama dengan Event Organizer, untuk mungkin, mengadakan sebuah kontes goped di Jogjakarta.

Sebuah hobi yang menjanjikan, bukan ?? Well, mulai dari sekarang, jika anda memiliki hobi dan ingin menjadi seorang penghobi. Maka pastikan dulu seberapa besar nilai kebermanfaatannya di masa depan. Selamat menjadi penghobi Smile

goped2

Advertisements

About robofics

Adalah seorang yang masih terus berupaya mencari makna dari kehidupan. Penikmat sastra, seorang plegmatis. Seorang pembelajar dari universitas kehidupan.
This entry was posted in catatan lepas and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Balas komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s