pepatah ketika nasi menjadi bubur itu sesat

Ketika nasi menjadi bubur. Mungkin peribahasa ini telah sering kita dengar. Makna peribahasa ini sebenarnya adalah sesuatu hal yang terjadi dan tidak dapat di ulang kembali / di perbaiki. Lalu, kenapa saya berani mengambil simpulan bahwa sejatinya pepatah “ketika nasi telah menjadi bubur” itu adalah sesuatu yang sesat ? Well, simpulan ini saya dapatkan karena percakapan saya dengan seorang teman. Mawar, sebut saja namanya begitu. Teman saya yang sedang dalam kegalauan karena masalah dengan pasangannya. Suatu ketika si mawar, entah karena dasar apa. Menuduh pasangannya telah melakukan perselingkuhan. Ya meskipun dari penjelasan yang ia jabarkan, saya tetap memilih berada di areal abu-abu. Saya enggan menyalahkan si pria, namun tidak pula membenarkan ucapan si mawar. Karena sejatinya tidaklah etis ketika saya hanya mendengarkan informasi dari satu sisi saja lantas kemudian saya menarik simpulan.

“Kamu yakin dia selingkuh ? kalo misalkan dia ga selingkuh, dan kamu salah tuduh gimana dong?” tanya saya. Mawarpun menjawab dengan kata-kata yang sejatinya tidak pernah saya duga akan terlontar dari mulutnya. “Ya mau gimana lagi, nasi udah menjadi bubur..tapi pasti dia selingkuh…”.

Wow, ini adalah awal dari proses dimana saya mengambil simpulan bahwa pepatah ini benar-benar sesat. Nasi telah menjadi bubur, seakan menjadi pembenaran atas tindakan yang salah. Nasi  telah menjadi bubur, seakan memaksa seseorang yang telah berbuat salah itu untuk berdiam diri saja tanpa adanya upaya untuk memperbaiki apa yang telah ia perbuat tanpa bernalar sebelumnya. Nasi telah menjadi bubur, seakan telah mensugesti seseorang bahwa sesuatu yang terjadi itu tidaklah bisa di perbaiki, jadi tak ada gunanya berupaya sekuat tenaga untuk membaikkan kualitas dirinya.

Bukankah nasi yang menjadi bubur itu karena pengabaian kita atas waktu yang membuatnya terlalu lama di masak sehingga ia telah berubah menjadi bubur ? Bukankah bubur itu tidak akan ada tanpa sebelumnya ada yang menanaknya ? Apakah ini salah si nasi yang menjadi bubur, atau salah kita yang menanak nasi kehidupan kita ?

Tidak, bukanlah nasi yang salah karena menjadi bubur. Namun ini semua sejatinya salah ktia. Salah kita telah mengabaikan waktu penanakan nasi. Salah kita yang tidak memiliki kontrol yang baik terhadap api yang digunakan untuk menanak nasi.

Sahabat, mari kita analogikan nasi itu layaknya kehidupan kita, api layaknya masalah-masalah dalam kehidupan kita. Dan kita adalah si penanak nasi,Sang manusia yang membutuhkan nasi ini untuk tetap bertahan hidup. Ketika kita menanak nasi(mengarungi kehidupan), pastilah membutuhkan api(masalah dalam kehidupan) kenapa ? karena tanpa adanya api tak akan pernah nasi menjadi nasi yang mampu kita makan. Begitu pula kehidupan, masalah itu perlu, sebagai media pendewasaan diri kita. Layaknya api yang dibutuhkan untuk menanak nasi. Namun, tentang seberapa lama nasi itu ditanak, tetaplah kita manusia yang memiliki kontrol penuh atasnya.

Tentang mau menjadi apa kita di kehidupan ini, menjadi nasi ataukah bubur, itu semuanya sejatinya berada pada kontrol kita. Nasi telah menjaidi bubur itu adalah pepatah sesat. Karena ia memaksa kita menjadi mengabaikan kemungkinan perbaikan yang mampu kita lakukan. Karena ia memaksa kita untuk tidak melihat sesuatu hal dari sudut pandang yang berbeda. Padahal segala sesuatu itu terjadi karena sebuah alasan.

Harusnya kita tak berhenti begitu saja dan mempersalahkan nasi atas perubahannya menjadi bubur. Tidakkah anda pernah bertanya kenapa ada ayam suwir dan kerupuk di dunia ini ? sebagai pelengkap ketika nasi telah menjadi bubur Smile

Jadi, jangan lantas berhenti menemukan makna lain dari sebuah peristiwa. Karena segala sesuatu pasti ada karena suatu alasan. Jadi, ketika nasi telah menjadi bubur..Maka tugas anda adalah mencari bagian lain dalam kehidupan anda yang bisa anda jadikan “ayam suwir dan kerupuk bagi si bubur kegagalan anda”.

Selamat menemukan ayam suwir dan kerupuk anda Smile

Advertisements

About robofics

Adalah seorang yang masih terus berupaya mencari makna dari kehidupan. Penikmat sastra, seorang plegmatis. Seorang pembelajar dari universitas kehidupan.
This entry was posted in renungan and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Balas komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s