Latihlah yang lemah

“Latihlah yang lemah”, Terkisah, seorang pelajar yang lemah kemampuannya dari segi numeriknya. Sedari dulu, ia selalu saja mendapatkan nilai yang buruk dalam mata pelajaran matematika. Temannya mencemooh, bahkan sang guru mengatakan bahwa ia bodoh. Sampai suatu ketika, ia memang berfikir bahwa dirinya memang bodoh dalam hal numerik. Sugesti itu selama bertahun-tahun tertanam dalam pikiran bawah sadar si pelajar itu. Sampai pada akhirnya sugesti itu mengendap menjadi sebuah kenyataan. Mirisnya, hal itu semakin memperkuat perspektifnya tentang dirinya sendiri bahwa sejatinya dia bodoh.

Suatu ketika, datanglah seorang sahabat dari negeri nun jauh disana. “Hidup ini layaknya gema dari teriakanmu di pegunungan, apa yang engkau ucapkan, maka itulah yang sejatinya engkau dengar”. ungkapnya. Si pelajar pun akhirnya di tuntun untuk merubah paradigmanya dari “Aku bodoh” menjadi “Aku pasti bisa”. Kemudian, di akhir perjumpaannya si sahabat menyelipkan sebuah kata-kata “Untuk menjadi ahli dalam sesuatu, maka latihlah yang lemah” ungkapnya. Berbekal nasihat sahabatnya itu, si pelajar memaksakan diri untuk mencintai mata pelajaran yang berkaitan dengan numerik. Semua buku di lahapnya, lambat laun, rasa bencinya akan pelajaran matematika itu pun sirna, hanya tersisa kecintaan pada pelajaran itu saja. Nilainya berangsur membaik, bahkan luar biasanya, ia berhasil memenangkan olimpiade matematika internasional. 

IMG_20141210_072446

Berbeda dengan si pelajar, sedari kecil saya (atau mungkin kebanyakan dari kita) telah terlanjur di jejali dengan persepsi bahwa sejatinya tangan kiri adalah tangan yang jelek. Sehingga banyak orang tua yang menjadi begitu emosional ketika melihat anaknya lebih dominan menggunakan tangan kirinya. Sehingga sampai saat ini, tangan kiri saya seolah berada dalam bayang-bayang “yang jelek”. Sehingga penggunaan tangan kiri saya pun menjadi minimal, menjadi tangan yang lemah. Iseng saya mencoba melatih kembali tangan kiri saya dengan mencoba menulis dengan tangan kiri. Ya, semoga saja saya tetap mampu menjaga konsistensi saya untuk melatih tangan kiri saya. Terlepas dari seberapa besar segi kebermanfaatannya jika kita bisa menggunakan tangan kiri kita. Saya lebih berfokus kepada upaya memberdayakan anugerah yang telah Tuhan amanahkan untuk saya jaga. Nilai kebermanfaatan hanyalah sekedar bonus karena kita telah melakukan kewajiban kita untuk menjaga amanah itu.

Namun, apabila anda memaksa saya untuk menunjukkan nilai kebermanfaatannya. Bahwa dengan menyeimbangkan tangan kiri dan kanan, kita sedang berupaya untuk mendayagunakan kedua fungsi otak dan menjadikan kita pribadi yang lebih cerdas dan kreatif. Jadi, intinya dalam hal apapun, jika ingin menjadi ahli dalam sesuatu hal, maka latihlah yang lemah. Karena dalam kasus ini saya menganggap tangan kiri saya lebih lemah dari tangan kanan saya, maka saya melatih tangan kiri saya Smile

Bukan nilai kebermanfaatan yang sejatinya saya kejar, namun tentang bagaimana kita menjaga dan memberdayakan amanah yang telah Tuhan berikan atas kita. Toh, Tuhan itu menciptakan segala sesuatu secara berpasang-pasangan. Jadi, tidaklah mungkin jika Tuhan menciptakan tangan kiri kita tanpa memberikan nilai guna atasnya. Jadi, latihlah yang lemah Smile

Advertisements

About robofics

Adalah seorang yang masih terus berupaya mencari makna dari kehidupan. Penikmat sastra, seorang plegmatis. Seorang pembelajar dari universitas kehidupan.
This entry was posted in catatan lepas and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Balas komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s