Segitiga kesuksesan atau segitiga kegagalan ?

Segitiga kesuksesan atau segitiga kegagalan ?? Seorang teman pernah bertanya kepada saya tentang makna  kesuksesan, dan bagaimana menggapai nilai-nilai kesuksesan itu. “Kawan, definisi sukses itu tidak bisa di sama ratakan, setiap orang memiliki standar kesuksesannya sendiri. Sukses itu tentang bagaimana kita mencapai citra diri kita yang ideal. Tentang upaya kita merubah citra diri kita yang faktual menjadi citra diri ideal yang kita ciptakan. Sejatinya kita adalah arsitek dari kehidupan kita sendiri. Jadi apapun yang kita lakukan, akan membentuk citra diri kita. Jadi pastikan setiap tindakan yang kita lakukan akan membawa kita menjadi semakin dekat dengan citra diri kita yang ideal, bukan justru menjauhkannya” ungkap saya.

Tapi kalau kita arsitek dari kehidupan kita, kenapa ketika kita sudah berusaha begitu keras untuk sukses, tapi tetap saja kita gagal ? Well, untuk menjawab pertanyaan itu, mari kita lihat segitiga berikut ini

segitiga-gagal

Kesalahan terbesar manusia adalah membaca segitiga kehidupannya dari atas ke bawah. Ia menempatkan Tuhan pada bagian atas segitiga, ini berarti ia menempatkan Tuhan pada porsi yang paling kecil, selebihnya adalah usaha, doa dan keinginan yang begitu besar terhadap kesuksesan itu, bahkan melebihi porsinya untuk Tuhan. Kenapa saya meletakkan Tuhan dan Doa dalam urutan yang berbeda ? perlu di garis bawahi bahwa Tuhan disini merupakan dzat transenden yang menaungi segala elemen yang sakral yang berada di dalamnya(termasuk agama). Sedangkan Doa, saya anggap sebagai suatu aktivitas yang memperkuat jembatan interkoneksi antara manusia sebagai ciptaan, dan Tuhan sebagai sang Khaliq. Itu sebabnya kenapa saya meletakkan Tuhan dan Doa dalam susunan yang terpisah. Manusia menjadi gagal ketika porsi keimanannya terhadap Tuhan sedikit, namun meminta kesuksesan yang begitu besar, tanpa di barengi dengan upaya yang besar pula, tanpa adanya upaya untuk memantaskan diri anda menggapai yang besar. Maka dari sanalah dasar terciptanya sebuah kegagalan.

Lalu ? Bagaimana caranya agar manusia mencapai kesuksesannya ? Mendengar pertanyaan ini membuat saya teringat akan sebuah cerita. Dimana terdapat seorang  pangeran yang setiap kali ia melihat keluar jendela istananya, semua orang terlihat begitu kotor, penuh dengan coreng-moreng. Sampai ia menyimpulkan bahwa semua orang itu kotor, tidak seharusnya ia bermain dengan orang-orang tersebut. Namun, ketika kaca jendela istananya di bersihkan, anehnya semua orang yang dulunya ia anggap kotor itu berubah menjadi bersih, tidak lagi terlihat adanya coreng-moreng. Intinya adalah, bukan orang lain, tapi tentang bagaimana kita melihat kehidupan ini. Tentang paradigma kita.

Untuk mencapai kesuksesan, yang harus kita lakukan adalah merubah paradigma kita yang sebelumnya. Merubah segitiga kegagalan kita menjadi sebuah segitiga kesuksesan.

segitiga-sukses

Kini, setelah kita merubah paradigma kita. Maka berubah pula alur pandang ktia terhadap segitiga ini. Kini perhatikan segitiga ini dari bawah ke atas. Letakkan Tuhan pada bagian paling dasar dari segitiga. Jadikan Tuhan sebagai pondasi dari segala aspek kehidupan kita. Besarkan kualitas kita di mata Tuhan. Setelah itu, baru kita upayakan kesuksesan kita sehebat yang kita mampu. Jika upaya telah mencapai batas maksimum dari yang mampu kita lakukan. Maka tugas kita selanjutnya adalah berpasrah diri. Sebagai media penguat pondasi ketuhanan yang kita buat di awal, juga sebagai jembatan interkoneksi antara kita dan Tuhan. Dengan begitu, sejatinya kita telah memantaskan diri kita untuk menggapai citra diri yang ideal. Maka kesuksesan kita adalah sesuatu yang bersegera bagi kita.

Jadi, segitiga kesuksesan atau segitiga kegagalan ? kini anda yang menentukan.

Namun begitu, jangan pula terlalu ambisius dalam upaya hebat anda menggapai kesuksesan. Biarkan segala sesuatu berjalan sesuai porsinya. Layaknya porsi yang sudah anda atur dalam segitiga kesuksesan anda. keluarlah dari zona nyaman anda, keluarlah anda dari belenggu kesuksesan yang orang lain ciptakan. Karena sejatinya sukses itu sesat dan sesaat. Maka definisikanlah kesuksesan anda sendiri. Gambarkan dengan jelas tentang citra diri anda yang ideal, upayakan kesuksesan anda, cintai prosesnya menuju citra diri yang ideal, dan pasrahkan segala kebaikan upaya hanya kepada Tuhan yang maha kuasa atas semesta.

Advertisements

About robofics

Adalah seorang yang masih terus berupaya mencari makna dari kehidupan. Penikmat sastra, seorang plegmatis. Seorang pembelajar dari universitas kehidupan.
This entry was posted in renungan and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Balas komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s