sebuah teori cinta para priyayi

Sebuah teori cinta para priyayi. Bagi anda yang hidup dan tumbuh dalam lingkungan Jawa yang kental, pastilah pernah mendengar tentang sebuah falsafah Jawa yang sangat di kenal sebagai standar acuan bagi para masyarakat untuk mencari pendamping hidupnya. “BIBIT, BEBET, BOBOT”. Ya, seakan falsafah ini telah mendarah daging di kalangan masyarakat Jawa khususnya. Bibit berkaitan dengan rupa(keturunan, asal usul, silsilah) dalam kehidupannya. Sedangkan Bebet lebih mengarah kepada keluarganya,lingkungannya, dan dengan siapa saja dia berteman,sedangkan bobot adalah nilai pribadi, erat kaitannya dengan kepintaran,gaya hidup, tingkat pendapatan, dll.

Kenapa teori cinta para priyayi ? Ya, saya lebih suka menyebut falsafah Jawa tersebut dengan sebutan teori cinta para priyayi, karena berdasarkan stratifikasi sosial yang ada, orang hanya akan mempersunting mereka yang memiliki strata sosial yang sepadan. Kawula alit(wong cilik / masyarakat biasa) misalnya, tidak akan mungkin menikahi seorang bangsawan atau bahkan keturunan raja. Seakan mereka merasa tidak pantas, cinta kepada seseorang yang memiliki kasta yang lebih tinggi adalah sesuatu yang mutlak haram hukumnya. Ya, karena prestise dan gengsi yang ada pada masyarakat feodal umumnya di dasari atau di ukur dari garis keturunannya. Namun, apabila di tanyakan tentang bisa tidaknya teori cinta para priyayi ini di implementasikan pada masa sekarang. Saya lebih memilih untuk mengkritisi sebagian dari teori tersebut. Ya, memang tidak sepenuhnya benar, karena sistem stratifikasi yang demikian hanya akan membatasi rasa cinta seseorang, meskipun hasrat cintanya yang begitu menggebu sekalipun, jika berbeda kasta, maka mau tak mau rasa cinta itu haruslah di buang jauh-jauh. Bagi anda yang menganut agama Islam, pastilah pernah mendengar sabda Rasulullah SAW yang berbunyi :

“Perempuan itu dikawini atas 4 perkara, yaitu karena HARTANYA, karena KETURUNANNYA, karena KECANTIKANNYA, atau karena AGAMANYA. Akan tetapi pilihlah berdasarkan AGAMANYA agar dirimu selamat.”

saya rasa, sabda Rasulullah tersebut dapat di aplikasikan di semua kondisi, tidak terbatas pada agama apapun yang ia anut. Kenapa ? mari kita perhatikan dengan seksama.

Bolehkah seorang pria mengawini wanita berdasarkan hartanya ? sah-sah saja menurut saya. Tapi yang perlu di garis bawahi bahwa harta itu bukanlah sesuatu yang abadi, ia akan habis juga pada akhirnya. Disamping itu, bagaimana perasaan si wanita ketika ia tahu bahwa si pria hanya menginginkan harta si wanita ? Marah ? tentu saja Smile

Bolehkah seorang pria mengawini wanita berdasarkan keturunannya ? karena ia adalah anak seorang bos besar atau pejabat misalnya ? boleh-boleh saja. Namun yang perlu kita ingat, tidak mungkin selamanya seseorang menjadi pejabat/bos besar, ada kalanya dia akan terpuruk. Kenapa ? karena Tuhan ingin melihat, masihkah ia mampu bersyukur dengan kondisinya yang saat ini terpuruk. Di samping itu, bisa anda bayangkan bagaimana perasaan si wanita ketika ia tahu bahwa si pria hanya menikahinya karena ia adalah anak seorang pejabat ? Well, saya rasa si wanita akan beranggapan bahwa si pria ini hanya sebatas ingin “numpang tenar” seseorang yang pengen ngetop dengan menikahi anak seorang pejabat.

Bolehkah seorang wanita di cintai karena kecantikan lahiriahnya ? tentu boleh. Seorang wanita pasti akan sangat bahagia ketika ia tahu bahwa ia dicintai karena ia cantik. Secara psikologis, mungkin setiap kali ia ingin bertemu dengan pasangannya itu, ia akan berdandan secantik yang ia mampu, menjaga dirinya agar terlihat cantik di mata pasangannya. Namun, ketika menikah nanti, masihkah ia bisa / sempat untuk setiap hari memperhatikan penampilannya ? Disamping itu, lagi-lagi, kecantikan hanyalah sebuah kefanaan. Sesuatu yang semu, yang hanya akan sirna pada akhirnya, kecantikan itu akan pudar ketika ia menua.

Maka pilihlah berdasarkan agamanya. Sudah barang tentu agama tidak hanya mengajarkan seseorang pintar secara spiritual, tapi juga mengajarkan seseorang untuk menjaga dirinya dengan sebaik-baiknya. Terlepas dari agama apapun, saya rasa semua agama akan memiliki perspektif yang sama dengan hal ini. Pribadi yang agamis, adalah sebaik-baiknya pribadi. Maka pilihlah berdasarkan agamanya, menurut hemat saya, pemilihan jodoh berdasarkan agama ini lah yang sejatinya saya sebut sebagai “cara mencintai yang priyayi”, bukan lagi teori cinta para priyayi. Dan karena selama masih terjadi keberlangsungan kehidupan, maka di situlah berlangsung ke agamaan. Jadi jika di tanya tentang relevansinya dengan masa sekarang dan masa depan nantinya, sudah barang tentu “cara mencintai yang priyayi” ini akan lebih relevan jika di bandingkan dengan “teori cinta para priyayi”.

Terlepas dari semua itu, ini hanyalah sebatas hemat saya semata. Kini tergantung pada anda, ingin mempertahankan teori cinta para priyayi, atau memilih untuk mencintai dengan cara yang priyayi Smile

Advertisements

About robofics

Adalah seorang yang masih terus berupaya mencari makna dari kehidupan. Penikmat sastra, seorang plegmatis. Seorang pembelajar dari universitas kehidupan.
This entry was posted in catatan lepas and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Balas komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s