Jangan cuma move on, tapi move up

“Jangan cuma move on, tapi move up”. Sahabat, sebelum saya menjelaskan maksud saya tentang “jangan cuma move on tapi move up”. Saya ingin menceritakan sebuah kisah. Desi, sebut saja namanya begitu. Sudah menjalin kasih selama 5 tahun dengan Irfan, temannya semasa sekolah dulu. Dulu, di awal hubungan mereka, hari-hari mereka dipenuhi dengan kebahagiaan, kegembiraan, suka cita. Namun, semakin lama ketidakcocokan itu kemudian muncul. Ada satu dan lain hal yang membuat mereka memikirkan ulang tentang hubungan mereka itu. Singkat cerita, merekapun akhirnya memutuskan untuk berpisah.

Desi, kini menegaskan diri untuk move on dari kehidupannya dengan Irfan. Dia mulai membangun semangat dalam dirinya sendiri, layaknya seorang hypnotist yang menanamkan sugesti-sugesti positif ke dalam dirinya sendiri. Namun, sayangnya, tetap saja bayang-bayang kenangan Irfan masih tergambar jelas dalam pikirannya. Bahkan semakin keras ia mencoba untuk melupakan kenangan itu, semakin jelas gambaran kenangan itu muncul.

Satu pertanyaan sederhana muncul, kenapa meskipun sudah move on, Desi tetap merasakan masalah yang sama ?? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat ilustrasi di bawah ini

MOVE ON

Ketika seseorang move on, sejatinya ia hanya akan bergerak maju ke depan. Sederhananya, move on layaknya pencuri yang berlari dari kejaran massa. Seberapa kuat ia mencoba lari, ketika kelelahan mendera. Maka masalah yang sama, atau mungkin efek lain yang di timbulkan dari sumber masalah yang sama(dalam hal ini di kejar massa). Maka pastilah ia akan tertangkap oleh massa(tertangkap oleh masalah yang sama) dan karena kultur dari bangsa kita yang terkadang sering main hakim sendiri, maka si pencuri ini akhirnya akan menjadi bulan-bulanan massa(efek yang timbul dari sumber masalah yang sama). Dalam kasus Desi, move on yang ia lakukan adalah dengan mencoba melupakan Irfan. Namun, saat ia mulai lelah dalam mencoba, maka kenangan tentang Irfan akan muncul kembali.

Lalu, sebenarnya bagaimana caranya agar Desi lepas dari bayang-bayang kenangan tentang Irfan ?

move up

Perhatikan ilustrasi di atas. Saat Desi move up dan move on dalam waktu yang bersamaan, maka ia akan bergerak ke atas dan juga bergerak maju ke depan secara bersamaan. Dengan begini, ia akan benar-benar lepas dari masalah yang mendera batinnya selama ini. Lalu, bagaimana jika Desi tidak berupaya melakukan apapun, dan berprinsip dengan “go with the flow”. Maka yang terjadi adalah seperti ini

move down Maka Desi akan di hantam oleh badai keterpurukan, guncangan psikologis yang sejatinya hanya akan menambah penderitaan batinnya. Namun, jika kita mau berfikir, sejatinya segala sesuatu itu ada karena sebuah alasan. Bersyukurlah ketika anda terpuruk, ketika anda berada di bawah, maka sejatinya satu-satunya jalan untuk menjadi baik adalah dengan bergerak keatas, bukan sekedar MOVE ON..tapi benar-benar MOVE UP.

Sebenarnya, konsepsi tentang move on dan move up ini tidak hanya berlaku dalam masalah perciintaan saja. Dalam masalah pekerjaan misalnya, konsepsi ini masih tetap bisa di implementasikan dengan sangat baik.

Jadi, saya yakin kini anda bisa mengerti, JANGAN CUMA MOVE ON SAJA..TAPI JUGA MOVE UP Smile

Advertisements

About robofics

Adalah seorang yang masih terus berupaya mencari makna dari kehidupan. Penikmat sastra, seorang plegmatis. Seorang pembelajar dari universitas kehidupan.
This entry was posted in kehidupan, renungan and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Jangan cuma move on, tapi move up

  1. Pingback: Tak ada hati yang patah | Universitas kehidupan

Balas komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s