Kita dan apa yang orang lain pikirkan tentang kita

“Kita dan apa yang orang lain pikirkan tentang kita”, membaca judul ini membuat saya teringat akan suatu kisah tentang seorang anak, ayah, dan seekor keledai mereka. Suatu hari di daerah Mesir. Abu, sebut saja namanya begitu, mengajak anaknya untuk pergi ke kota untuk menjual keledainya. Udara kala itu begitu panas membakar kulit, desiran anginpun tidak mampu menyejukkan. Entah karena angin yang enggan berkelakar, atau mungkin kegagahannya yang seolah menguap sirna karena panasnya udara. Jarak tempuh yang begitu jauh, dan ketiadaan kendaraan lain masa itu memaksa ayah dan anak ini untuk menunggangi si keledai kecil ini. Dalam perjalanan menuju kota, ia berpapasan dengan segerombolan orang. Melihat tingkah laku Abu dan Abdul, segerombolan orang ini mencibir mereka. “Dasar tidak berperikehewanan, tidakkah kalian lihat betapa kasihannya keledai kecil itu yang harus membawa kalian dan barang-barang kalian. Bagaimana jika si keledai ini mati nantinya?”.

Mendengar perkataan itu, Abu memutuskan untuk turun dari keledainya berharap beban yang harus di bawa si keledai menjadi berkurang. Namun di perjalanan, ia kembali bertemu dengan gerombolan lain. Sama halnya seperti gerombolan yang sebelumnya, gerombolan ini juga ikut mencibir. “Dasar anak durhaka! tega sekali membiarkan ayahnya meneteskan peluh dengan berjalan kaki begitu jauh dan dia dengan nyamannya duduk diatas keledai”. Tukas mereka. Mendengar ucapan mereka, Abu pun meminta Abdul untuk turun dari keledai, Abu kemudian menunggangi keledai itu dengan membiarkan anaknya berjalan mengiringi. Merekapun kembali melanjutkan perjalanan mereka menembus panasnya udara kala itu. Tak berapa lama, kembali mereka berpapasan dengan segerombolan orang. Lagi-lagi cibiran terhadap ayah dan anak ini  terucap. “Dasar orangtua tidak berperikemanusiaan! Tega sekali membiarkan anaknya berjalan kaki sementara ia duduk begitu nikmatnya menunggangi keledainya”. Akhirnya Abu memutuskan untuk turun dari keledai itu dan menemani Abdul, anaknya, untuk berjalan kaki menuju kota. Sekali lagi, ia kembali bertemu dengan segerombolan orang yang mencibir mereka. “Dasar bodoh! padahal kalian memiliki keledai, kenapa tidak kalian tunggangi keledai itu menuju kota agar kalian cepat sampai di kota?”. Mendengar perkataan itu pun Abu menjadi begitu kesal. Akhirnya ia pun menggendong keledai itu dan berjalan menuju kota. Naasnya, segerombolan orang kembali mencibir tingkah laku bapak dan anak ini. “Dasar orang gila! untuk apa kalian menggendong keledai itui. Padahal keledai itu bisa berjalan”.

keledai

Dari cerita tentang Abu,Abdul dan keledainya diatas, dapatkah sahabat mengambil intinya ? Benar, “Siapapun kita, apapun yang kita lakukan. Orang tetap akan memiliki pendapat tentang kita”. Ya, tak peduli apapun yang kita lakukan, sejatinya orang lain tetap akan memiliki pandangan tentang diri kita. Dan bahkan ketika kita tidak melakukan apapun, tetap saja orang akan memiliki pandangan tentang kita. Ketika kita terlalu mengikuti apa yang orang lain katakan, maka hilanglah kesempatan kita menjadi diri kita sendiri. Saya teringat dengan perkataan Albert Einstein. “We are the product of our creativity”. Kita adalah produk dari kreatifitas kita. Sedangkan kreatifitas di dapatkan melalui proses berfikir, maka secara eksplisit Albert Einstein ingin mengatakan bahwa sejatinya kita adalah produk dari apa yang kita fikirkan, dan bukan apa yang orang lain fikirkan tentang kita. Kitalah yang berperan besar membentuk citra diri kita sendiri, bukan orang lain. Kitalah arsitek dari kehidupan kita sendiri. Otak adalah anugerah luar biasa yang Tuhan amanahkan untuk kita pergunakan sebaik-baiknya. Jangan biarkan oranglain membentuk kehidupan anda, tapi tegaskanlah diri anda untuk menciptakan kehidupan anda sendiri. “You are what you are, and  as you are, you are just perfectly great.. So just accept whatever you are”.

Screenshot_1

Bangun kecintaan terhadap diri anda sendiri, bangun kesyukuran terhadap Rabb yang transenden. Ibadah kepada Tuhan adalah ibadah yang bersifat vertikal, sementara membantu sesama adalah ibadah horizontal. Lakukan ibadah vertikal dan horizontal secara beriringan, jangan pernah memikirkan apapun yang orang lain pikirkan tentang kita, pikirkan itu jika dan hanya jika ia memberikan nilai kebaikan bagi kehidupan anda, jika tidak maka abaikan saja. Dengan begitu, sejatinya anda telah memantaskan diri anda untuk menjadi sebaik-baiknya pribadi yang memiliki kedekatan interpersonal dengan Tuhan anda.

Advertisements

About robofics

Adalah seorang yang masih terus berupaya mencari makna dari kehidupan. Penikmat sastra, seorang plegmatis. Seorang pembelajar dari universitas kehidupan.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Kita dan apa yang orang lain pikirkan tentang kita

  1. Pingback: Resolusi 2015 ? Aksi nyata atau hanya sebatas kontemplasi tanpa aksi ? | Universitas kehidupan

Balas komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s