Sekilas mengingat tentang kematian

       Sore itu, kegagahan mentari telah terusik oleh indahnya lembayung senja. Cahayanya yang benderang kini perlahan mengabur menggulita. Suara adzan menggema mengangkasa menghiasi segenap cakrawala. Damai senja itu pun terusik dengan sebuah pesan singkat dari seseorang yang aku kenal. Seseorang yang amat sangat aku kenal. “beberapa hari ini aku nangis. Berat banget rasanya buat ninggalin rumah. Ga seperti biasanya. Mungkin ajalku udah dekat”. Entah apa yang saat itu ia pikirkan, namun terus menerus ia menceritakan tentang firasat kematian yang ia rasakan. Seakan kematian itu nampak begitu nyata di depannya.

mati

       Karena kepercayaan atas firasatnya tersebut, kegelisahan amat sering menghampirinya. Wajahnya yang ceria berubah murung, lamunan-lamunan semakin sering menghampirinya. Tatapan matanya kosong, entah ke mana semangat itu sirna. Mata yang dulu memancarkan semangat yang menggebu, kini hanya tinggal kekosongan. Duka nampak tergambar begitu nyata di matanya.      

       Kematian, adalah sebuah gerbang yang kita tiada pernah tahu sejatinya akan di mana ia membawa kita. Kematian, adalah kondisi ketiadaan nyawa dalam organisme biologis. Bahwa sejatinya setiap makhluk yang bernyawa, pastilah ia akan menemui ajalnya. Bahwa manusia pasti mati, adalah sebuah premis kehidupan yang tiada terbantahkan kebenarannya. Cepat ataupun lambat, mati itu adalah sebuah kepastian. Pada akhirnya kita hanya harus mempercayai, bahwa ketika manusia itu mati, hanya akan menyisakan sejarah kehidupan yang dulu pernah kita ukirkan.

       Sahabat, kematian adalah rahasia Tuhan yang transenden. Tak seorang pun tahu bagaimana dan di bumi mana ia akan mati. Meskipun firasat kematian itu tampak begitu nyata. Tak sepantasnya   kita mempercayainya begitu saja. Entah kenapa, seakan firasat ini seakan sebatas sebuah persepsi yang berdiri tanpa landasan ilmu pengetahuan dan kenyataan yang benar. Ia berjalan berdasarkan pembenaran atas dugaan yang sering kali salah. Biarkan kematian itu menjadi urusan Tuhan yang transenden. Bahwa sejatinya manusia tiada di beri pengetahuan atas sesuatu yang gaib kecuali hanya secuil saja. Dan biarkan rahasia kematian itu berada dalam ranah metafisik, sesuatu yang bahkan terlalu surealis untuk di definisikan.

       Sejatinya tak seorang pun tahu kapan dan di mana ia akan mati. Sejauh dan sehebat apapun kita menghindar darinya, kematian itu akan datang dan menghampiri kita nantinya. Tak ada tempat  yang aman di manapun di bumi ini yang bisa membuat kita terlepas dari sergapan malaikat maut. Kita tidaklah tahu apa yang akan terjadi, bahkan untuk satu detik ke depan. Maka sejatinya kita haruslah siap menghadapi segala sesuatunya. Maka sebelum masa kita datang, sudah menjadi suatu keharusan bagi kita untuk menjadi sebaik-baiknya pribadi. Sahabat, karena sejatinya firasat itu hanya akan melahirkan ketakutan, rasa tidak aman dari berbagai hal 

Advertisements

About robofics

Adalah seorang yang masih terus berupaya mencari makna dari kehidupan. Penikmat sastra, seorang plegmatis. Seorang pembelajar dari universitas kehidupan.
This entry was posted in catatan lepas, renungan. Bookmark the permalink.

Balas komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s