Kamu ya kamu, syukuri saja

Suatu ketika, saya datang bersama Andi, Icha, Zulfan dan Arif mendatangi rumah seorang teman kami yang bernama Rahmat. Agaknya dalam beberapa hari ini dirinya sedang dalam kondisi yang kurang baik. Nikmat kesehatan sedang terenggut darinya untuk beberapa saat. Bukan karena Tuhan tidak suka dengannya, melainkan Tuhan ingin melihat derajat kesyukurannya semasa kesehatan itu direnggut atasnya. Sudikah ia meluangkan sedikit dari waktunya untuk bersyukur di kala ia sakit. Badannya yang gempal itu pun kini melemah. Lunglai tanpa terlihat sedikit pun daya baginya untuk beranjak dari tempat tidurnya. Wajahnya yang pucat seakan menegaskan gambaran rasa sakit yang ia rasakan kala itu. Cukup lama kami berbincang di sana, sambil sesekali kami melemparkan celotehan sebagai pencair suasana. Celoteh-celoteh ini hanyalah sebagian dari upaya terselubung kami untuk membuat Rahmat sejenak melupakan rasa sakitnya dan tertawa bersama dalam kebahagiaan. Tak baik juga terus menerus meratapi rasa sakit yang sejatinya hanya akan membuat sakit itu semakin sakit, kan ?  

Tak terasa, sudah hampir dua jam kami bercengkrama. Bukan karena waktu yang terlalu lama menyita kami di rumahnya, namun agaknya kami sudah kehabisan bahan candaan lagi untuk membuatnya tetap tersenyum bahagia. Ingin hati berada di sana lebih lama. Tapi agaknya percuma ketika waktu kami di sana sudah tiada lagi tawa. Hanya keheningan yang terpatri dalam sunyi . Hanya suara detik jam di kamarnya yang mampu memecah keheningan sementara kami mencoba menemukan kata yang tepat untuk kembali membuatnya tertawa. Kami pun akhirnya memutuskan untuk pulang. Rahmat tersenyum, seakan kami mampu melihat senyum palsu itu terkembang. Seakan kami menyadari bahwa sejatinya ia tidaklah ingin kami pergi. Entah karena kami mampu membunuh sepi, atau karena kehadiran kami mampu membuatnya melupakan rasa sakit yang ia derita. Waktu semakin memburu, ada hal lain yang harus kami lakukan, sejatinya hanyalah alasan klise yang terlalu kami buat-buat karena otak kami tak mampu lagi menemukan bahan candaan lain. Ya, kami terbunuh oleh sepi. Terbunuh oleh pikiran-pikiran kami sendiri.

17-who-am-i

Di luar rumah, Icha nampak begitu sibuk memandangi ikan-ikan koi di kolam di depan rumah Rahmat. Entah apa yang ia pikirkan kala itu. Sejurus kemudian ia mengatakan sesuatu yang sejatinya membuat saya tertawa geli mendengarnya. “Asik kali ya jadi ikan, bisa renang kesana kesini tiap hari”.  “Yowis, koe dadi iwak wae nek ngono cha”, “Yasudah, kalau begitu kamu jadi ikan saja cha” celetuk Andi dalam logat Jawa yang kental. “Bagaimana kamu bisa tahu, sementara kamu bukanlah ikan?” timpalku.

Sahabat, benar memang ikan nampak begitu bahagianya berenang ke sana-ke mari. Tapi, bagaimana kita bisa mengetahui bahwa ikan itu dalam kebahagiaan setiap saat ? sementara kita sendiri bukanlah ikan. Benar memang burung itu dapat terbang ke sana-ke mari sesuka hatinya sambil sesekali bertengger di dahan pepohonan sembari mengoceh saling bersautan satu sama lain. Tapi bagaimana kita tahu bahwa ia dalam kebahagiaan sementara kita bukanlah burung ??

Sahabat,  setiap makhluk itu sejatinya telah di berikan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Ikan dengan kemampuannya untuk berenang, burung dengan kemampuannya untuk terbang. Setiap makhluk hidup telah di ciptakan beserta dengan takdir tentang bagaimana caranya untuk bahagia. Namun burung dan ikan tetaplah hewan. Dan anda ?? anda tetaplah diri anda. Apa yang membedakannya ? Akal pikiran tentu saja. Hewan-hewan ini diberi kemampuan untuk terbang dan berenang namun tidaklah di beri kemampuan untuk berpikir. Sehingga yang mereka lakukan adalah sesuatu yang monoton dengan satu tujuan utama, MENCARI MAKAN. Namun kita berbeda, kita di beri akal pikiran untuk terus berpikir. Untuk memikirkan kebaikan-kebaikan lain yang akan meninggikan derajat kita di mata sang Khaliq nantinya. Kamu ya kamu, syukuri saja!. Coba pikirkan bila anda adalah pribadi yang berbeda, atau bahkan makhluk yang berbeda. Saya yakin anda tidak akan di beri kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang saat ini anda cintai. Tidak akan mengenal orang-orang yang pernah menorehkan luka di hati anda. Tidak akan bertemu dengan teman-teman anda yang selalu menawarkan canda kebahagiaan bersama anda. Tidakkah anda mensyukuri hal itu ? Jadi ? Nikmat Tuhanmu yang mana lagi kah yang 

Advertisements

About robofics

Adalah seorang yang masih terus berupaya mencari makna dari kehidupan. Penikmat sastra, seorang plegmatis. Seorang pembelajar dari universitas kehidupan.
This entry was posted in kehidupan, renungan. Bookmark the permalink.

Balas komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s