Sukses itu sesat dan sesaat

Mungkin anda mulai mempertanyakan lvaliditas judul ini. Bagaimana bisa saya hadir dengan membawa simpulan bahwa sesungguhnya sukses itu sesat dan sesaat ? Karena sejatinya sudah sedari kecil kita di jejali dengan paham kesuksesan yang secara secara batiniah telah sukses memaksa setiap pribadi untuk berbondong-bondong, berebut mendapatkan label kesuksesan. Telah terpatri begitu kuatnya dalam logika berfikir masyarakat bahwa sejatinya kesuksesan itu senantiasa di asosiasikan dengan kepemilikan atas harta, jabatan, sehingga sukses itu sebegitu sempurnanya mengkotak-kotakkan orientasi hidup tiap individu menjadi pribadi yang individualistis dan materialistis.

Sejatinya sukses ini telah berhasil menggentayangi tiap aspek kehidupan manusia, rasa takut yang menghebat akan ketidakmampuan kita untuk memenuhi aspek “gaya hidup mainstream” yang menjadikan manusia layaknya manusia. Ketakutan ini memaksa tiap individu untuk berlomba-lomba menimbun harta, bermewah-mewahan, harus ini, harus itu, yang sejatinya hanya akan membuat semakin terpuruk dalam paradigma sukses yang memenjara manusia dalam paradigma kesuksesan dan jurang kegagalan. Agar kita menjadi ‘orang’, sebuah jargon yang sejatinya memiliki makna yang kabur, makna yang rancu. Sebuah tanya mengerucut tentang orang seperti apa nantinya kita.  Bukan hal yang mustahil apabila orang tua kita disemati dengan label kegagalan karena mereka telah gagal menjadi se kaya Abu Rizal Bakrie dan mereka gagal menjadi se tenar H. Rhoma Irama.

Itulah sebabnya kenapa saya mengatakan bahwa sukses itu sesat dan sesaat. Sesat karena logika berfikir masyarakan yang mengasosiasikan kesuksesan dengan kuasa atas kebendaan dan derajat kekuasaan. Sehingga mereka yang tidak mampu mencapai derajat yang setara dengan mereka yang memiliki gaya hidup mainstream tersebut mulai menjadi terkucilkan dan mengasumsikan dirinya menjadi seseorang yang begitu kerdilnya karena ketidakmampuannya mencapai “unsur mainstream tersebut”. Hal ini yang justru sejatinya menciptakan suatu bentuk keminderan yang begitu akutnya bagi mereka yang tiada mampu menggapai unsur mainstream tersebut. Sukses itu sesaat, karena sejatinya kehidupan ini layaknya sebuah bola. Ada kalanya kita berjaya berada di atas puncak kesuksesan kita, namun bukan hal yang mustahil bahwa bola kehidupan itu akan bergulir kembali dan menjadikan kita dalam suatu kondisi yang begitu terpuruknya. Ketika kita memilki keinginan yang sebegitu menggebunya untuk menjadi pribadi yang sukses, sejatinya hal itu adalah sebuah kesiasiaan

Advertisements

About robofics

Adalah seorang yang masih terus berupaya mencari makna dari kehidupan. Penikmat sastra, seorang plegmatis. Seorang pembelajar dari universitas kehidupan.
This entry was posted in kehidupan, renungan. Bookmark the permalink.

One Response to Sukses itu sesat dan sesaat

  1. Pingback: A Note Of Loneliness | Segitiga kesuksesan atau segitiga kegagalan ?

Balas komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s