Hai Pengangguran! Carilah Pekerjaan Yang Benar

Artikel ini saya buat berdasarkan kenyataan bahwa begitu banyak orang yang tertipu dengan pekerjaan. Well, saya adalah satu dari sekian banyak orang yang hampir tertipu dengan lowongan pekerjaan. Hampir tertipu untungnya 🙂
Jujur saya memang sedang membutuhkan pekerjaan baru. Karena saya telah memutuskan untuk keluar dari pekerjaan saya yang dulu, dan saya rasa bukanlah hal yang etis ketika kita membicarakan alasan kita keluar dari sebuah pekerjaan, biarkan saya saja yang tahu 😀

Pucuk di cinta ulam pun tiba, itulah peribahasa yang sekiranya paling tepat menggambarkan apa yang saya alami. Singkat cerita, saya baru saja pulang dari daerah Janti Yogyakarta. Sampai rumah handphone saya berdering. Seorang teman menelpon saya. Entah kenapa, sudah begitu lama sebenarnya kami tidak saling berkomunikasi. Mendadak dia menelpon, mengajak bertemu. Butuh editor ungkapnya, saya pun mengiyakan. Memang beberapa hari ini dia sebegitu getolnya mencoba menghubungi saya. Dalam telpon pun dia dengan nada seakan memaksa, inilah awal kecurigaan saya. Dirumah pun hanya sebatas menjalankan shalat maghrib. Saya cium tangan ibu dan ayah saya, kemudian bersegera pergi ke daerah Pasar Demangan menemui teman lama saya itu. Sampai di sebuah kos, disana telah berkumpul beberapa orang. Seorang wanita berbadan gempal berambut terurai, sweater berwarna hitam dengan tas coklat. Susan mereka memanggilnya. Orang lainnya, Heru mereka menyebutnya. Pria kecil namun berpostur sedang dengan baju biru bermotif kotak-kotak dan celana hitam legam. Seorang lagi benama Wawan, postur kecil dengan rambut model polem. Dan teman saya ?? Ah sudahlah, sebut saja kamboja 😀
Lama kami menunggu seseorang yang mereka panggil sebagai mas Toni. Si kamboja pun mulai bercerita tentang ini itu tanpa pernah menyinggung soal pekerjaan ini. Nampak sekali ini upayanya mencairkan suasana. Setiap kali saya tanya soal pekerjaan itu, jawabannya selalu saja kesana kemari tanpa arah yang jelas. Termasuk ketika saya bertanya tentang bidang pekerjaan apa ini, “Banyak bro, ini kerjaan udah gede, Cuma kita lagi bikin tim baru, black horse namanya..kuda hitam” tukasnya. Jelas ini menambah kecurigaan saya, kenapa seakan tidak ada sedikitpun kejelasan tentang bidang pekerjaan apa. Hampir 3 jam kami menunggu kedatangannya. Setengah 10 malam, seseorang bernama Mas Toni ini mengatakan bahwa ia telah berada di dekat SMA de Britto Jogja. Sekitar 30 meteran dari kos-kosan itu berada.
Kami pun bergegas menghampirinya. Sebuah mobil besar seukuran mobil travel (entah, belum begitu mengenali jenis dan merk mobilnya). Satu persatu dari kami masuk, saat giliran saya masuk bersama teman saya si kamboja. Entah kenapa, si Wawan membisikkan sesuatu yg masih jelas terdengar oleh saya. “kamu belakangan aja masuknya” ungkapnya. Jelas ini aneh, entah mau di bawa kemana kami ini. Saya masih terdiam. Mencoba menganalisa setiap gerak-gerik dari mereka. 12 orang masuk ke dalam mobil, 6 diantaranya adalah orang baru, termasuk saya. Saya duduk di deretan kursi belakang bersama 3 orang pria. Satu orang di sebelah kiri saya bernama Aris. 2 orang di samping saya entah siapa, sayang saya belum sempat berkenalan dengan mereka. Terlihat jelas 2 orang di kanan saya ini nampak begitu gelisah. Takut akan sesuatu. Tak mencoba menjadi munafik, saya pun mengalami hal yang sama. Namun saya tetap mencoba menjadi tenang. 2 orang wanita di depan saya jelas tampak panik. Sempat mereka memaksa untuk keluar, namun ditahan oleh seorang wanita berjilbab yang entah siapa. Namun mereka nampak sebegitu akrabnya. Si wanita berjilbab ini pun mencoba menenangkan mereka bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Anehnya, kenapa “orang-orang baru” ini di letakkan di deret paling belakang. Dan entah kenapa saya mendadak berasumsi bahwa ini cara mereka agar kami tidak bisa keluar dari mobil, entahlah. Sekitar seratus meteran berjalan, seseorang dari deretan depan baru menginstruksikan kita untuk berdoa sesuai agama dan keyakinan. Entah lupa atau di sengaja, harusnya doa itu dibacakan sebelum mobil berjalan. Namun, ini sebaliknya. Jujur saya tidak berdoa saat itu, saya masih sibuk mengamati gerak-gerik mereka yang ada di depan. Ah sudahlah tak apa pikir saya. Di Jalan Solo saya iseng bertanya dengan mas Aris, “ini kita mau di bawa kemana mas?”. Betapa terkejutnya saya ketika ia menjawab bahwa kita akan di bawa ke Semarang. “Hah semarang??” ungkap saya terkejut. 2 orang di samping kanan saya pun semakin curiga. Dahinya mengernyit tanda berfikir. Segera saya ambil handphone saya, saya tuliskan pesan “Mas, ngerasa aneh ga sih?? Curiga ga sama ini semua ? ayo keluar aja dari mobil ini” kemudian saya sodorkan handphone saya kepada kedua orang tadi dan meminta mereka membacanya. Mereka pun mengiyakan. Cerdasnya, pria di samping kanan saya ini berpura-pura mendapat telpon dari temannya. Teman saya kecelakaan ungkapnya, dia memaksa untuk turun. Cerdas, pujian saya atas ide mereka dalam hati. Mobil pun melambat, mereka turun. Saya pun ikut nyelonong turun memaksa. “Loh kok masnya ikutan turun juga” , tanya si wanita berbadan gempal tadi. Dengan lugas saya menjawab “Maaf mbak, udah janji sama ibuk..kirain tadi Cuma bentar..lain kali aja yaa”. Dan memang kenyataannya saya sudah berjanji ingin memijat ibu saya yang kebetulan sedang tidak enak badan. Alhamdulillah ungkap saya segera setelah keluar dari mobil itu. Di jalan saya berbincang dengan dua orang yang bahkan belum sempat saya tanyai namanya. Mereka mengungkapkan kecurigaannya. Kecurigaan yang sama dengan apa yang saya alami. Duuh, saya terpaksa harus berjalan dari sekitaran Galeria Mall kembali ke daerah Demangan ini >_<
Ah sudahlah, dan sayapun melangkah dengan tegas yang semakin lama semakin tegas berlari. Bukan karena apa, hanya saja saya takutkan kalau sampai motor saya di bawa lari oleh komplotannya. Sampai di kos-kosan itu senyum simpul tampak menghiasi wajah saya. Untung motor saya sudah saya kunci stang dan lubang kuncinya saya lock sehingga tidak bisa di buka kecuali dengan kunci yang tepat (beruntung karena fitur yang ada di motor matic 😀 ). Memang disana masih ada orang yang entah siapa, sempat mereka terkejut dengan kedatangan saya. Tapi mereka tidak merespon apa-apa. Karena helm saya terkunci di dalam kamar kos, saya pun kembali ke rumah tanpa mengenakan helm. Memacu motor saya menembus gang-gang sempit sampai akhirnya menembus sunyi nya jalan selokan mataram di malam hari. Dan Alhamdulillah sampai di rumah, ya meskipun helm saya tidak bisa saya ambil. Taka pa, semoga teman saya si Kamboja itu masih berbaik hati untuk mengembalikan helm saya.
Terlepas dari benar tidaknya asumsi saya soal orang-orang ini, terlepas dari halal tidaknya kerjaan yang mereka lalkukan ini. Jujur saya lega, jikalau yang mereka lakukan adalah sesuatu yang baik. Maka saya sangat senang atas kerezekian mereka semua (Termasuk 2 orang wanita dan mas Aris yang menjadi “orang baru” dalam komunitas mereka) . Semoga keberuntungan tetap menyertai anda. Tapi apabila yang mereka lakukan itu adalah sesuatu yang tidak baik, semoga kesadaran bersegera menghampiri mereka.
Hai pengangguran! Carilah pekerjaan yang benar. Jangan lantas mudah di iming-imingi dengan gaji yang selangit. Telusuri dulu asal usul lpekerjaan itu. Cari keterangan sebanyak-banyaknya. Janganlah asal percaya dengan siapapun. Maksud saya, bahkan orang yang kita anggap sebagai orang baik sekalipun bukan suatu ketidak mungkinan apabila nanti ia mencoba menjerumuskan kita.
Well, itulah tadi cerita nyata yang saya alami, semoga menjadi pembelajaran bagi kita semua.

Advertisements

About robofics

Adalah seorang yang masih terus berupaya mencari makna dari kehidupan. Penikmat sastra, seorang plegmatis. Seorang pembelajar dari universitas kehidupan.
This entry was posted in catatan lepas and tagged , , . Bookmark the permalink.

Balas komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s