Sebuah Pengaminan atas Doa lelaki di bawah pohon

Sebenarnya kisah ini terjadi kisaran 4 bulan yang lalu. Siang itu saat aku sedang duduk di kursi depan warung di PMI Markas Yogyakarta. Kursi kayu yang mulai lapuk termakan usia. Kursi kayu yang sebegitu tangguhnya menantang gravitasi bumi dan menopang jejeran pantat-pantat manusia untuk tidak jatuh terjerembab ke bawah saat mereka mencoba melepas penat. Disampingnya terdapat meja kayu melingkar yang entah sudah berapa tahun ia mendekam disana. Tak jauh dari kursi itu, nampak sebuah pohon yang entah apa namanya, dengan angkuhnya menantang panasnya mentari. Dengan batang yang kuat mengakar serta dedaunan yang lebat, seakan ia menjadi pelindung bagi mereka yang bernaung di bawahnya, mereka yang melepas penat mereka diatas kursi kayu yang merapuh.


Yu beti, begitu kami memanggilnya. Sosok pemilik warung yang kursinya kala itu aku pinjam untuk sekedar melepas lelah dari terik mentari yang menyengat. Lama aku duduk disana, termenung. Bukanlah aku sedang meratapi nasib, tidak. Hanya sedang mencoba menikmati setiap seruput minuman yang aku beli di warung Yu Beti. Tak lama berselang, seorang pria paruh baya dengan jaket coklat datang menghampiri. Dan pantatnya pun ia daratkan di kursi kayu nan rapuh itu dengan perlahan. Senyum simpul yang begitu tulusnya lantas terlihat begitu gamblangnya segera setelah pantatnya mendarat dengan sempurna, seraya tangannya menjabat tanganku sebegitu hangatnya.
“Njenengan dalemipun pundi mas?” , “anda rumahnya mana mas?” lelaki itu mengawali percakapan siang itu. “Cebongan pak” jawabku kala itu. “Nyambut damel wonten mriki nopo pripun?”, “kerja disini atau gimana mas?” tanya nya kembali, seolah ia tidak ingin percakapan ini berakhir begitu saja. “Mboten pak, dalem namung relawan, nembe setunggal tahun kadosipun”, “Enggak pak, saya cuman relawan, baru sekitar setahunan kayaknya” timpalku sesaat kemudian. “Subhanallah, alhamdulillah” ungkapnya kemudian. Senyuman tulusnya semakin menahanku agar tidak keluar dari percakapan itu segera. Lama kami bercakap, membicarakan banyak hal, mulai dari kerjaan, sampai kisahnya bertemu sang pujaan hati yang kini telah resmi menjadi istrinya. Entah apa yang terbersit dalam pikirnya kala itu, sampai ia sebegitu gamblangnya menceritakan kehidupannya kepadaku, orang yang baru saja ia kenal. Tak lama berselang, sesosok perempuan paruh baya datang menghampiri. Jilbab berwarna kuning, sebuah tas berwarna coklat ia tenteng di tangan kirinya. “Niku garwa kula mas”, “itu istri saya mas” tandasnya. Ya, istrinya baru saja selesai mendonorkan darahnya, dan si pria ? Tidak, ia hanya mengantarkan istrinya saja, beberapa hari yang lalu jarum suntik itu telah menggeliat menembus kulitnya dan menyedot darahnya layaknya vampire yang kehausan.
Akhir dari percakapan kami pun ia selipkan sebuah petuah bagiku, tak lupa ia sematkan secuil doa yang dengan tulusnya aku amini 🙂

tutur katanya halus dengan logat jawa yang sebegitu kentalnya. Beginilah kurang lebih pesan yang ia sampaikan apabila di transliterasikan ke dalam Bahasa Indonesia.

“Alhamdulillah masih ada anak muda yang peduli terhadap sesama, disini kamu sudah mendapatkan dasar kemanusiaannya, suatu saat nanti jika kamu telah sukses, jangan pernah lupa bahwa menolong sesama itu adalah wajib hukumnya, jangan menjadi seperti politisi/artis sekarang, ketika kesuksesan mereka gapai, malah kesombongan yang semakin mereka pupuk hingga sebegitu suburnya”

Satu hal yang sejatinya ingin saya utarakan dalam artikel ini. Wahai sahabat, teruslah engkau membantu sesama, benar bahwa membantu orang lain itu tidak akan menghindarkan seseorang dari kepastian kematian. Namun doa tulus yang terucap dari mereka yang engkau bantu itu akan menyelamatkanmu di hari perhitungan kelak, hari dimana segala amal perbuatan itu di timbang untuk di pastikan kelayakan kita mendapatkan surga. Janganlah mengkultuskan sebuah kesuksesan, karena sejatinya kesuksesan itu hanya sementara, kehidupan ini layaknya bola yang berputar. Ada kalanya kita di atas, namun suatu ketika pastilah kita akan berada pada titik paling bawah dalam kehidupan ini.
Jangan pernah sekalipun bersombong diri atas apa yang saat ini engkau miliki. Karena yang saat ini anda banggakan, tak mungkin selamanya akan anda genggam. Ada masa dimana yang anda miliki saat ini, akan terenggut dari tangan anda. Jadi masihkah anda bersombong diri ??

Terimakasih bapak yang entah siapa nama anda, doa dan petuah anda adalah sesuatu yang memang sudah seharusnya aku amini keniscayaannya. Semoga kebaikan turut menyertai anda dimanapun anda berada.

Advertisements

About robofics

Adalah seorang yang masih terus berupaya mencari makna dari kehidupan. Penikmat sastra, seorang plegmatis. Seorang pembelajar dari universitas kehidupan.
This entry was posted in kehidupan. Bookmark the permalink.

Balas komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s