Kisah Seorang Pria Ber masker dan Wanita Bersayap Patah

Kemarin siang, sepulang dari kampus. Aku mengemban amanah luar biasa. Membayar Pajak Bumi dan Bangunan di salah satu bank di Jogjakarta. Terik mentari pun tiada aku hiraukan, karena ini amanah. Bahkan terik mentari yang tegas membakar kulit pun tiada membuatku bergeming. Ku pacu kendaraanku dari rumah langsung menuju Jalan Godean. Hampir separuh perjalanan aku lalui, nampak di tepi jalan seorang lelaki dengan wajah bertutupkan masker berteriak dengan lantang. Pekik suaranya begitu kuatnya terdengar bahkan sebelum aku sampai di dekatnya. Jaket berwarna hitam tutupi tubuhnya yang sedikit membuncit pada bagian perutnya. Helm hitam menutup kepalanya, sebuah kacamata hitam menutup matanya yang seakan semakin menambah kesan keasingan. Tangan kanannya menggenggam begitu eratnya, sementara tangan kirinya menunjuk ke seseorang yang entah siapa.

Aura kemarahan tampak begitu jelas disana, meskipun mimik mukanya tiada tergambar karena perwajahannya yang tertutup masker. Dia, wanita tua yang sedari tadi ia tunjuk dengan aura kemarahan. Wanita ber kaos hitam lusuh dengan gambar Tugu Jogja di tengahnya. Tanah berdebu menjadi tempat dimana kakinya bertimpuh seakan memohon ampunan. Sabak mukanya begitu nyata, sesekali kakinya menendang nendang tanah seakan berontak. Rambut keriting yang mulai menguban seakan menggambarkan betapa semrawutnya kehidupan yang ia jalani. Tangisnya pun akhirnya pecah jua. Air matanya membanjir menetes kearah pipinya. Ya, wanita itu adalah wanita yang bersayap patah. Masih samar dalam benak ini, tentang hubungan keduanya. Tentang apa yang si pria lakukan hingga si wanita renta itu menangis sejadi-jadinya. Tentang apa yang dilakukan si wanita renta hingga sang pria marah sebegitu hebatnya. Sempat terbersit dalam pikiran, adakah mungkin si wanita tua itu adalah ibunya. Yang sengaja ia usir dari rumahnya karena si pria itu tiada tahan melihat kelakuan ibunya yang mungkin membuatnya sebegitu muaknya. Ataukah mungkin si wanita renta itu hanyalah seorang gila, yang entah apa yang ia lakukan hingga membuat si pria itu begitu geramnya. Ataukah mungkin aku yang terlalu teracuni oleh alur cerita fiksi yang begitu banyak ditampilkan oleh stasiun televisi di Indonesia.

Bular mata ini memandang tingkah keduanya, akupun pergi beranjak, akselerasi mesin motorku semakin nyata terasa. Bersegera aku menuju bank agar segera gugur kewajibanku hari ini. Aku pun lantas beranjak kembali kerumahku. MASIH DISANA, orang itu masih disana, tangisnya begitu nyata membahana. Ingin hati bertanya tentang apa yang sejatinya terjadi. Namun seakan tiadalah pantas diri ini, bukan karena aku pribadi yang hina, tapi apabila ini adalah urusan keluarga, maka bukanlah ranah yang mampu aku mengatasinya.
Entahlah, terlepas dari apapun itu semua. Adalah tidak pantas bagi seorang pria menghardik seorang yang begitu renta. Pun pabila wanita tersebut adalah ibunya, adalah tidak pantas bagi si pria menghardiknya sebegitu liarnya. Tidakkah ia tahu, sembilan bulan sepuluh hari ia dalam kandung sang ibu. Di timang di manja di kala kecil. Dirawat dengan jutaan curahan kasih sayang yang tiada mungkin ia mampu membalas. Tidakkah ia ingat, pengorbanan ibunya yang begitu luarbiasa atas dirinya hingga ia beranjak dewasa kini ? Pabila benar si renta itu adalah ibu yang dulu mengandungnya, maka sungguh engkau adalah pria yang durhaka adanya. Namun apabila si renta hanyalah seorang gila, tetaplah tidak pantas baginya menghardiknya sebegitu kasarnya. Atas apapun yang ia lakukan, mengertilah, bahwa sesungguhnya ia hanyalah orang gila. Orang yang logisnya sirna, bukanlah karena proses pencucian otak yang sebabkan silap pikirnya. Namun karena semrawutnya pikir yang sejatinya ia sendirilah penciptanya. Benar ia hanyalah orang yang silap pikirnya, namun tiadalah itu mengubah kenyataan bahwa sejatinya ia jualah seorang manusia. Manusia yang juga memiliki hak dan keinginan untuk dimanusiakan layaknya manusia, bukannya di hardik layaknya binatang ternak yang sebegitu dungunya.
Sungguh, cerita ini adalah benar adanya. Bukan sebuah retorika yang terkarang begitu indahnya. Adalah suatu keterserahan bagi anda untuk mempercayai keaslian cerita ini, ataukah mungkin menafikan kenyataannya. Terlepas dari itu semua, adalah sudah gugur kewajiban bagi ku untuk mengingatkan kita semua. Bahwa sejatinya ibu adalah pribadi luar biasa. Kasih sayangnya begitu nyata terasa, adalah suatu ketidakpantasan bagi kita untuk menghardiknya. Adalah sebuah kedurhakaan bagi kita pabila kita menyiksa ibu kita sebegitu hebatnya. Adalah sebuah dosa bagi kita, bahkan ketika kita hanya sekedar mencibir apa yang ibu kita lakukan.
Adalah tidak benar menghardik, menyiksa, menghina orang gila. Benar bahwa mereka adalah pribadi yang silap pikirnya. Namun sejatinya mereka masihlah tetap seorang manusia. Manusia yang memiliki hak dan keinginan untuk dimanusiakan layaknya manusia.
Sahabat, sejatinya kita adalah pribadi yang hina. Kita tiadalah sempurna, maka sungguh tiadalah kita memiliki hak untuk menuntut kesempurnaan dari oranglain. Tiada keabadian, segala sesuatu yang bernyawa sejatinya akan musnah pada akhirnya. Ayah ibu kita yang dulu tampak begitu belia, kini mulai keriput, kulitnya melegam karena mentari yang tegas membakar kulitnya. Seakan hanyalah tersisa kumpulan kulit yang membungkus tulang. Percayalah, bahwa nanti kitapun akan mengalami hal yang serupa. Tubuh ini akan sirna, hancur terkubur bersama tanah.
Maka, sebelum masa itu datang menghampiri orangtua kita. Adalah sebuah kewajiban bagi kita untuk merawat menjaganya sepenuh cinta. Bukan di hardik di siksa layaknya ternak yang sebegitu dungunya. Tidakkah kita ingin di kasihi dan di manja semasa hari tua kita nanti ? maka, sedari sekarang, kasihilah sayangilah orang tua anda. Agar suatu saat nanti ketika tubuh anda menua merenta, anda dapat merasakan kasih sayang yang serupa dari anak cucu anda. Berbuatlah baik kepada sesama, karena sebuah kebaikan sederhana itu pastilah akan mengawali kebaikan lain yang lebih besar nantinya. Karena sebenarnya kebaikan itu akanlah berdampak pada diri anda sendiri nantinya.

Advertisements

About robofics

Adalah seorang yang masih terus berupaya mencari makna dari kehidupan. Penikmat sastra, seorang plegmatis. Seorang pembelajar dari universitas kehidupan.
This entry was posted in renungan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Balas komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s