8 Tahun Yang Lalu Di Jogjakarta

Pagi ini mentari bersinar begitu tegasnya, semburat cahayanya menelisik menerobos dedaunan. Meninggalkanku yang tak jua sadar bahwa pagi telah menjelang. Alarm yang sejatinya sudah sedari tadi berbunyi tuk bangunkanku, tak jua lelah untuk mencoba berdering mengusikku dari lelap tidurku. Aku terbangun, nanar memandang kondisi di sekelilingku yang telah menerang. Bukan karena pijar lampu yang benderang, tapi karena mentari yang telah sepenggalah naik diatas cakrawala. “Astaga, aku telah kuliah” pikirku. Sejenak terdiam, coba tuk sirnakan nanar yang tegas menggenggam. Langkah kakiku semakin cepat, mengejar waktu yang tiada mungkin melambat. Bergegas mandi dan mempersiapkan segalanya untuk berangkat kuliah. Rutinitas luarbiasa sebagai modal menyongsong masa depan. Ya, meskipun entah karena sang dosen yang begitu pandainya menarasikan materi yang begitu banyaknya, atau karena aku yang terlalu tidak fokus untuk merenggut makna dari apa yang sedari tadi ia cakapkan. Dan entah kenapa, saat berada di ruang kuliah ini, dengan tatanan kursi ini, kursi yang penuh coretan yang seakan mengisahkan kegundahan mereka yang duduk disini. Entah ini hanya sekedar rasa, namun seakan waktu enggan beranjak pergi. Seakan ia pun terbuai oleh narasi sang dosen yang mampu membelai lembut mahasiswanya hingga membuat kantuk ini seakan memberat menghebat. Bak seorang hipnotist yang menuntun subjek (baca : aku) semakin lelap memasuki kondisi alam tidur yang semakin lama semakin mendalam. Sayup terdengar dari arah belakang, seseorang yang entah siapa berkisah tentang gempa Jogja. Aku sejenak terdiam, otakku kembali menelisik ke sudut-sudut memori masa lalu itu.

Ya, empat hari yang lalu,tepat 8 tahun yang lalu, bumi Jogjakarta bergetar begitu hebatnya. Masih terekam dengan begitu jelasnya. Saat tanah itu diguncangkan dengan begitu dahsyatnya. Untung Tuhan masih memberikan nikmat keselamatan padaku dan keluargaku masa itu. Hanya rumahku yang sedikit meretak saja yang ku dapati. Kala itu aku hanyalah seorang anak sekolah yang bahkan tak tahu menahu tentang aktifitas seismik itu. Pagi itu, ku kayuh sepeda jengki yang biasa menemani perjalananku ke sekolah. Sesampainya di sekolah, hanya kekosongan yang ku dapat. Genting sekolah yang dahulu nampak angkuh melindungi ku dari terik mentari dan hujan kala kegiatan belajar mengajar berlangsung. Kini ia cerai berai jatuh terpecah belah seakan angkuhnya sirna begitu saja. Sejenak memastikan bahwa sekolah diliburkan kala itu, kembali ku kayuh sepeda jengki ku menuju warnet, berharap mendapatkan koneksi internet untuk sekedar download film pikirku kala itu. Naas, tiada satu warnet pun yang rela membukakan pintunya. Pintunya tertutup begitu rapatnya. Bukan karena kehadiranku, tapi karena memang kondisi yang tidak memungkinkan bagi warnet itu untuk menerima pelanggan. Tak apa, esok hari masih ada waktu pikirku. Kembali ku kayuh sepedaku menuju rumahku. Baru saja kaki ini berpijak, isu tsunami itu sudah santer merebak. “Ayo lek mlayu, banyu ne laut wis tekan demakijo”, “ayo buruan lari, air lautnya udah nyampe Demakijo”. Ya, meskipun dengan sedikit rasa keraguan, aku terpaksa membonceng tetanggaku naik sepeda motor, bahkan tanpa alas kaki. Sampai di daerah Turi kami terhenti, daerah yang secara geografis sedikit lebih tinggi dibandingkan tempat dimana aku tinggal. Keanehan lain muncul, dari arah Turi justru kendaraan bermotor menuju ke arah selatan. Sontak tetanggaku menangis, merapi menggeliat pikirnya. Bahkan dalam benaknya sempat terpikir apabila tsunami dari arah selatan dan lava pijar merapi dari arah utara bertemu, dan ia berada di tengah-tengah kondisi itu, pastilah ia akan mati. Tangisnya semakin menjadi. Aku hanya terdiam, seolah tak tahu harus berbuat apa, menjadi penenangnya pun seakan tiada guna, siapalah aku ini, bocah kecil yang bahkan terlalu lugu apabila harus menjadi penenang sekaligus motivator baginya yang menangis tersedu kala itu. Lagipula, apa yang harus aku utarakan untuk menenangkannya pun aku tidak tahu. Aku hanya tersenyum, berharap senyum itu mampu menjadi penenang hatinya. Berjam jam kami berada di pinggir jalan. Terik mentari semakin menegas membakar kulit menggarang aspal. Aku pun memaksa untuk pulang kembali kerumah, aku bahkan tidak tahu bagaimana kondisi ayah ibuku, karena kami terpisah jauh entah kemana. Kami pun bergegas pulang kerumah. Isu hanyalah sebatas isu, sampai dirumah tak terjadi apapun rupanya. Terkadang jika mengingat memori itu membuat ku tertawa sendiri. Karena bahkan dalam kondisi seperti itu, masih sempat ada orang yang entah tidak aku kenali wajahnya, meminta izin untuk meminjam uang kepada tetanggaku. Sontak aku tercengang, bagaimana bisa dengan kondisi seperti ini.. Ah namun itulah manusia, dalam kondisi seperti ini segala sesuatu adalah hal yang halal baginya untuk dilakukan. Dalam kondisi seperti ini, akan terlihat benar sisi egois manusia itu ditampakkan. Tapi itulah manusia, tiada pernah mendekati kesempurnaan. Hamba yang hina, berlumur dosa. Tidak ada satupun pribadi di dunia ini yang sempurna. Dan bencana adalah salah satu dari sekian banyak cara Tuhan untuk membuat manusia itu tersadar. Bahwa sejatinya kekayaan itu hanyalah sebuah kefanaan yang tiada patut untuk disombongkan. Bahwa kesombongan,keangkuhan,egoisme, adalah sifat yang hanya akan mengkerdilkan kualitasnya dimata Tuhannya.

Advertisements

About robofics

Adalah seorang yang masih terus berupaya mencari makna dari kehidupan. Penikmat sastra, seorang plegmatis. Seorang pembelajar dari universitas kehidupan.
This entry was posted in catatan lepas and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Balas komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s