Karena syukur itu sederhana, tapi itu perlu

Siang itu di Jalan lingkar utara Jogjakarta. Mentari tampak begitu angkuh bertengger di cakrawala. Lampu lalulintas memaksa pengguna jalan berhenti menanti hijaunya. Pepohonan kecil di sekitar jalan itupun tiada mampu meneduhkan mereka dari udara panas yang menggarang aspal dengan dahsyatnya. Bahkan seakan angin pun enggan berkelakar, hanya deru mesin kendaraan bermotor yang memecah kesunyian, seakan semakin menegaskan bahwa inilah neraka dunia. Jalan lingkar utara yang sejatinya lebar, kini menyempit ketika mendekati perempatan Jalan Kabupaten, sedang ada perbaikan jalan nampaknya. Di ujung jalan itu, nampak pria paruh baya berjalan dengan lunglainya. Bajunya yang lusuh seakan menggambarkan nestapa. Kepalanya di balut dengan kain putih kusam, berharap itu mampu menjadi peredam murkanya sang surya.

Kedaulatan Rakyat

Kedaulatan Rakyat


Di tangannya tertopang tumpukan koran yang entah berapa eksemplar jumlahnya. Langkahnya semakin menegas menghampiri ku, segera ku rogoh kantong jaketku, berharap menemukan ‘uang pas’ agar aku tidak perlu menunggu ia menghitung uang kembalian. Langkahnya semakin tegas, kini ia tepat berada di depanku. “Nyuwun KR ipun pak”, “minta KR nya pak”, pintaku dalam logat Jawa. Segera ia serahkan koran Kedaulatan Rakyat (KR), sebuah koran yang terbit secara regional di daerahku dan beberapa daerah disekelilingnya. Segera ku serahkan uang 3000 rupiah sebagai harga yang harus ku bayar untuk sebuah koran itu. “Alhamdulillah, matur nuwun sanget mas”, “Alhamdulillah, terimakasih banyak mas” ucap penjual koran itu sejurus kemudian. Lampu lalulitas itu berubah hijau, segera ku pacu kendaraanku menembus Jalan lingkar utara. Namun ada satu pikir yang seakan mengganjal disana. Betapa luarbiasanya lelaki itu, dengan sedikit uang yang ia terima pun ia tetap saja mampu mengumbar senyum kesyukuran yang begitu tulusnya. Seakan aku tahu, bahwa akulah pembeli pertamanya hari itu. Harga 3000 rupiah, berarti ia hanya mengambil keuntungan 500-1000 rupiah untuk setiap koran yang mampu ia jual. Koran yang sejatinya terbit pada pagi hari itu, baru laku sedikit saja menjelang siang hari.

Sahabat, terkadang kita tidak peduli bahwa sebenarnya kita jauh lebih beruntung daripada bapak penjual koran itu. Kadang kita terlalu angkuh untuk mensyukuri apa yang kita miliki, kita terlalu sombong dengan yang kita punyai. Ketahuilah, bahwa manusia hidup di dunia itu hanyalah sementara. Bukan untuk selamanya, jadi sungguh tiada pantaslah bagi kita untuk menyombongkan sesuatu yang sejatinya hanyalah titipan dari sang Khaliq untuk kita jaga.

Pernahkah kita bersyukur, atas ketersediaan udara yang melimpah, yang tiada perlu sepeserpun kita keluarkan uang untuk membayarnya ?
Pernahkah kita bersyukur, atas kesehatan yang kita miliki, sebelum sakit itu itu datang mendera?

Sahabat, sungguh tiada manusia yang sempurna. Karena sejatinya kesempurnaan hanyalah milik Rabb yang maha kuasa. Dzat transenden yang sampai kapanpun kita tiada mampu mengalahkan ke kuasaannya. Namun, ada satu hal yang harusnya kita sadari. Bahwa benar manusia tiada yang sempurna, namun ada cara agar manusia itu mampu setidaknya mendekati kesempurnaannya sebagai seorang manusia. KESYUKURAN, itulah salah satu fase yang harus kita lalui untuk mendekati sempurnanya seorang hamba. Namun sayangnya, begitu banyak orang yang entah karena ia lupa atau tidak peduli tentang arti pentingnya sebuah kesyukuran. Sungguh kesyukuran itu sesuatu yang amat sangat sederhana, tapi itu sesuatu yang perlu. Kenapa ?? karena dengan bersyukur maka lengkaplah sudah kebahagiaan yang kita terima. Karena dengan bersyukur, maka semakin dekatlah manusia itu pada kesempurnaannya sebagai seorang hamba. Karena sejatinya ketika kita bersyukur, maka naiklah derajat kita sebagai seorang hamba dimata Khaliq yang Maha Mulia. Karena bersyukur itu sederhana, tapi itu perlu 🙂

Jadi, mulailah mensyukuri apapun yang saat ini anda miliki. Syukuri itu meskipun itu sesuatu yang kecil, yang kadang terkesan tidak berarti bagi kita. Namun kesyukuran dari hal yang kecil itulah yang justru nanti akan membesarkan kita. Membesarkan derajat kita di mata Rabb kita.

Sahabat, sungguh dengan kita bersyukur itu tiadalah kita merugi. Hanya butuh beberapa detik saja bagi kita untuk bersyukur. Beberapa detik untuk mensyukuri hal-hal kecil yang kita terima.

Saat kita mampu bernafas, syukurilah. Sebelum kemampuan kita untuk bernafas itu di cabut.
Saat kita dalam keadaan sehat, syukurilah. Sebelum nikmat kesehatan itu sirna dari tubuh kita.
Saat kita makan, syukurilah. Karena begitu banyak orang yang bahkan tiada bisa menikmati makanan yang kita makan.

Saat kita duduk, syukurilah. Atas kesempatan untuk duduk dan melepas lelah.
Saat kita minum, syukurilah. Atas air yang mampu melepas dahaga yang ada.
Saat kita tidur, syukurilah. Atas kesempatan bagi kita untuk bangun kembali dalam keadaan yang lebih bugar.

Atas apapun, syukurilah. Karena sejatinya terlalu banyak hal yang harusnya kita syukuri, namun tiada pernah kita lakukan.
Bersyukurlah, karena syukur itu sederhana…tapi itu perlu 🙂
seperti bapak penjual koran, yang tetap bersyukur meskipun hanya mendapat sedikit keuntungan.
Karena ia sadar, bahwa syukur itu sederhana…tapi itu perlu 🙂

salam syukur 🙂

Advertisements

About robofics

Adalah seorang yang masih terus berupaya mencari makna dari kehidupan. Penikmat sastra, seorang plegmatis. Seorang pembelajar dari universitas kehidupan.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Balas komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s