ini cerita PMI ku : bukan ftv bukan telenovela

berawal dari adanya lomba menulis cerita yang diadakan oleh Palang Merah Indonesia, hati ini tergerak untuk menuliskan pengalaman pribadi saya yang bersinggungan langsung dengan PMI, ya meskipun pada akhirnya ga menang..cm sebatas lolos seleksi awal 😀

tak apalah,setidaknya ada harapan kecil dimana tulisan saya ini dapat menginspirasi orang lain 🙂

Gempa bumi yang melanda Jogjakarta sekitar tahun 2006 lalu adalah awal ketertarikanku untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang lain. Masih tergambar jelas olehku kala itu, guncangan gempa yang meluluhlantahkan kota ku tercinta. Bak kota mati, Jogjakarta berubah porak poranda. Namun begitu, ribuan rasa syukur tak hentinya kupanjatkan kepada sang Khaliq atas anugerah keselamatanNYA kepada kami sekeluarga kala itu, pun rumah ku masih berdiri kokoh sementara yang lain hanya tinggal puing.
Hanya melalui televisi tua dirumahku sajalah aku bisa memantau apa yang sebenarnya terjadi di kotaku. Kala itu ku lihat begitu banyak orang yang dengan sigapnya menolong mereka yang tidak seberuntung aku. Kesedihan mereka sungguh tergambar dengan jelasnya. Entah kenapa, seakan ada desakan yang begitu kuatnya dalam hati ini untuk membantu. Apalah daya, aku hanyalah seorang anak sekolah yang bahkan tak tahu apa yang harus aku perbuat untuk membantu, pikirku waktu itu. Rasa bersalah itu semakin menghebat berkecamuk dalam hatiku, kenapa seakan aku tidak bisa melakukan apapun, sementara aku hanya bisa melihat mereka “si baik hati’’ yang dengan senyum keikhlasannya membantu mereka yang tiada seberuntung diriku. Bertahun tahun aku terbelenggu dalam rasa bersalah, yang tiada mampu menolong mereka yang membutuhkanku kala itu. Berulang kali ku mencari cara untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain tanpa perlu berpakaian layaknya film-film superhero, namun tak jua ku temukan jawaban atas keinginanku itu. Mei 2012, 6 tahun setelah gempa itu berlalu, baru ku temukan sebuah titik terang dari keinginan yang membelenggu ku. Sebuah brosur tentang rekrutmen untuk menjadi KSR PMI di Unit 1 Markas Kota Yogyakarta muncul di beranda facebookku. Sudut-sudut bibirku tertarik dengan cara yang tiada aku pahami, senyum simpul tergambar jelas di wajahku kala itu. Segera ku hubungi nomor hp yang tertera disana, senyum itu mendadak berubah layu, semangat yang tercipta mendadak sirna begitu saja dengan cara yang tiada mampu aku jabarkan. Fase rekrutmen itu telah berlalu. Gagal , lagi lagi aku menjadi manusia yang gagal menjadi penolong mereka yang membutuhkan, menjadi kebaikan sebanyak mungkin orang lain. Namun, diakhir pesan singkat itu, ada kata yang sedikit membuat batin ini melega ”ikut yang tahun depan aja mas”.

Ah sudahlah, mungkin memang bukan waktu yang tepat untukku menjadi bagian dari PMI, pikirku masa itu. Setahun berlalu, yang entah bagaimana caranya, mendadak kakak kelasku masa SMP menandai ku dalam sebuah foto tentang rekrutmen KSR PMI tahun 2013. Pucuk dicinta ulam pun tiba, tanpa pikir panjang ku pacu laju kendaraanku ke Mako PMI Kota Yogyakarta Jln Tegalgendu No. 25. Segera ku daftarkan diriku, ya, bahkan tanpa sebelumnya mengantongi restu dari orang tuaku. Sampai di rumah, ku ceritakan keinginanku pada orang tua ku. Entah mengapa, ada penolakan yang luar biasa dari ayahku. Wajahnya berubah merah, sorot matanya tajam bak elang yang siap menerkam tikus di tengah padang ilalang. Entah kenapa, dalam tajamnya sorot mata itu aku melihat adanya kerapuhan. Ketakutan hebat yang mengendap jelas di balik tajamnya sorot mata itu. Ayah takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan saat aku menjalankan tugasku nanti. Namun setelah mengalami perdebatan panjang, pun akhirnya restu itu ku dapatkan. 2 bulan fase diklat ku lalui, tak pernah ku kira menjadi seorang relawan seberat ini upayanya. Setelah fase diklat berlalu, masih saja aku dihadapkan dengan bayang-bayang ujian sertifiaksi, gladi lapang dan pelantikan, serta pengukuhan. Tak apa, inilah fase yang harus aku lalui untuk menjadi relawan yang berkualitas, pikirku. Beberapa bulan kemudian,Di jalan terjadi sebuah kecelakaan tunggal, dengan segala pengetahuan yang aku dapat semasa diklat, aku bantu orang itu. Dalam mobil ambulans, dengan terbata orang itu mengucapkan terima kasih kepadaku.

Entah kenapa hati ini serasa begitu bahagianya bisa membantunya. Namun takdir berkata lain…bak petir di siang bolong..bahagiaku seketika itu sirna, orang itu meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit. Bahkan aku tidak jua mengerti kenapa mendadak mata ini meneteskan air mata, aku bahkan tak kenal orang itu.. Tapi kenapa ?
Dari sana aku belajar satu hal, bahwa sehebat apapun kita menolong,dengan cara yang paling benar sekalipun, ada proses yang tiada bisa kita mengerti. Proses dimana mekanisme Tuhan bekerja. Takdir, ya proses itu adalah takdir. Kita tiada tahu kapan usia ini akan berakhir, kita tidak akan pernah tahu di bumi mana kita akan mati. Kita tidak akan pernah tahu apapun yang akan terjadi bahkan untuk satu detik kedepan. Untuk itulah kita harus siap atas segala kemungkinan. Wahai relawan di seluruh dunia, teruslah menolong sesama. Benar memang mungkin dengan menolong tidak akan menghindarkan kita dari kematian, namun doa-doa mereka yang tulus kita bantu itulah yang mungkin nanti menolong kita di Hari Perhitungan, hari dimana amal kebaikan manusia di timbang untuk menentukan kelayakan kita menggapai surga. Inilah bukti, menjadi relawan PMI adalah fase menuju kedewasaan sikap dan pola pikir.

Inilah PMI ku, inilah cerita Palang Merahku, bukan FTV bukan telenovela, bukan pula kedustaan yang dirangkai dalam kata untuk menarik simpati.

Inilah PMI ku, inilah cerita Palang Merahku, sebuah realita yang tergambar nyata dalam sebuah cerita.
Red Cross for humanity, This is my Red Cross Story, tempat dimana manusia memanusiakan manusia. Terima kasih PMI.

Advertisements

About robofics

Adalah seorang yang masih terus berupaya mencari makna dari kehidupan. Penikmat sastra, seorang plegmatis. Seorang pembelajar dari universitas kehidupan.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Balas komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s