Candi Abang : Romantisme Senja di balik eksotisme bukit teletubies

Candi abang, Sebuah situs purbakala yang letaknya tidak jauh dari kawasan Candi Banyunibo dan Candi Barong. Disebut sebagai Candi Abang karena struktur candi yang terbuat dari batu bata merah (abang dalam bahasa jawa berarti merah). Namun kini hampir seluruh bagian candi tertutupi oleh rumput sehingga terlihat seperti gundukan atau bukit kecil dalam film Teletubies πŸ™‚



Hari ini, 09 April 2014 tepat pukul 16.00 saya berangkat dari daerah Banguntapan dengan harapan bisa menanti senja di bukit teletubies ini. Menyusuri jalan Wonosari kemudian berbelok ke kiri melewati Jalan Piyungan-Prambanan sekitar 2 kilometer akan ada papan penunjuk arah yang bertuliskan Candi Abang dan Gua Sentana. Akses jalan menuju pelataran Candi terbilang terjal bahkan rusak, jadi hanya bisa dilalui oleh sepeda motor atau akan lebih amannya lagi bila memilih untuk berjalan kaki. Sesampainya di pelataran candi, saya sempat bingung karena tidak melihat sedikitpun tanda bahwa itu adalah sebuah candi, hanya ada gundukan bukit kecil seperti dalam film Teletubies. Namun setelah berada di atas memang masih samar terlihat tumpukan batu bata merah yang tertutup oleh rerumputan. Ya, memang keutuhan candi ini sudah tak lagi sempurna, namun bila melihat kenyataan yang ada, sudah bisa dipastikan bahwa keindahannya masihlah belum purna termakan usia πŸ™‚
Masih di kawasan yang sama, tepatnya di sebelah selatan candi terdapat sebuah batu yang menyerupai kodok. Tak heran warga sekitar menyebutnya sebagai Batu Kodok (Jawa: Watu Kodok). Di Puncak candi terdapat sebuah cekungan yang lumayan besar. Menurut kabar, dulunya itu adalah sebuah sumur yang di beri nama sumur bandung / bandungan. Setelah duduk sekian lama menunggu “golden time” yaitu detik detik menjelang tenggelamnya matahari, mendadak komunitas sepeda yang tadinya duduk tenang di belakang saya langsung merubah raut mukanya menjadi yang paling manis…berfoto sana sini dengan tampang paling keren πŸ˜€
Bagi anda yang ingin sekedar refreshing ke tempat ini, bisa membawa bekal sendiri karena belum ada orang yang berjualan di area ini. Tempat ini juga belum ada penarikan retribusi alias tidak di pungut biaya sepeserpun.

Advertisements

About robofics

Adalah seorang yang masih terus berupaya mencari makna dari kehidupan. Penikmat sastra, seorang plegmatis. Seorang pembelajar dari universitas kehidupan.
This entry was posted in wisata. Bookmark the permalink.

Balas komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s